Senin, 08 Juni 2009

MAHASISWA “AGENT OF CHANGE” BUKAN “AGENT OF CHANCE”



Belum lama ini, tepatnya tanggal 20 Mei, kita semua rakyat Indonesia merayakan suatu hari yang amat bersejarah, awal lahirnya rasa kebangsaan di tanah air ini, HARI KEBANGKITAN NASIONAL. Atas prakarsa dr. Wahidin Sudirohusodo sebuah organisasi nasional lahir dari Mahasiswa Kedokteran Stovia. Mahasiswa mulai membuat pembaharuan dan memainkan perannya sebagai agent of change.

Mahasiswa adalah sebuah masa pematangan menuju otoritas pola hidup yang baru. Fenomena pun beranjak dari putih abu-abu yang idealis, pemimpi dan penuh hura-hura menjadi seseorang yang bertanggung jawab memegang peranan sebagai ikon agent of change sebuah bangsa. Tak banyak yang bisa sadar dan berlakon dengan baik terhadap peran yang disandangnya. Banyak mahasiswa yang memunculkan lakon-lakon baru untuk mengantikan tugas sesungguhnya. Mereka memulai untuk membuat definisi-definisi baru untuk kata “mahasiswa”. Ada yang berkata bahwa mahasiswa adalah golongan kaum elit yang biasanya berpenampilan “wah” atau “parlente” dengan kendaraan yang “wah” pula. Dan ada pula yang beranggapan bahwa mahasiswa adalah diatas segala-galanya. Mereka mengartikan kata “mahasiswa” tersebut menjadi “maha” dan “siswa” yaitu siswa yang paling tinggi. Mungkin 2 penyataan di atas tidak ada salahnya. Kalau kita lihat realita yang terjadi sekarang, kurang lebih begitulah gambarannya, mahasiswa sudah berubah peran menjadi agent of chance, dimana ada kesempatan, disana mereka masuk dan menyeruak. Namun, ketika kesempatan telah tertutup, mereka hilang entah kemana. Dimana tanggung jawab seorang mahasiswa yang berpikir secara logika dan mendahulukan kepentingan bangsa? Merujuk kepada sebuah puisi yang berbunyi, mahasiswa takut kepada dosen, dosen takut kepada dekan, dekan takut kepada rektor, rektor takut kepada mentri, mentri takut kepada presiden, presiden takut kepada mahasiswa. Ya, begitulah kira-kira isi dari puisi tersebut yang berarti bahwa mahasiswa bisa berbuat apa saja dan memiliki kekuasaan di atas penguasa bangsa.

Dan hal itupun telah dilakukan oleh mahasiswa, yang merubah bentuk pemerintahan Indonesia ini yaitu merubuhkan tonggak kekuasaan orde baru pada tahun 1998. Ya, itulah hebatnya seorang mahasiswa. Dia bisa berbuat apa saja, bahkan menjatuhkan kedudukan seseorang yang berkuasa di suatu negara. Saking hebat dan berkuasanya, banyak mahasiswa yang kebablasan dengan perannya tersebut. Menyalah gunakan gelar “mahasiswa” yang disandangnya demi kepentingan segelintir oknum. Sebagian mahasiswa lebih memilih menjadi agent of chance, memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan kesejahteraan diri, bukan bangsa lagi. Ironis memang, tapi itulah yang terjadi di negeri ini. Jika dulu pemuda itu satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, maka sekarang pemuda itu satu rupiah”. Artinya, dipersatukan oleh rupiah untuk melakukan suatu tindakan.

Namun, tak semua mahasiswa zaman ini yang bermetamorfosis. Masih ada mahasiswa yang setia dengan tanggung jawabnya dan bangga membintangi lakon sebagai agent of change. Siapakah dia? Dia adalah kita. Dari berjuta-juta mahasiswa yang ada di Indonesia, kalau saja hanya 1 juta yang tetap setia dengan peran itu, maka dalam 1 juta mahasiswa tersebut adalah kita. Ketika hari berganti bulan, bulan pun telah berganti tahun, 1 juta mahasiswa pun tak bisa dipertahankan untuk menempati peran tersebut. Maka ketika hanya 100 orang yang masih betah dengan peran itu, maka salah satu dari 100 orang itu adalah kita. Akhirnya musim pun berganti, tinggal 10 mahasiswa yang tetap bertahan memegang teguh amanahnya sebagai ikon agent of change, dan yakinlah 1 dari 10 orang itu adalah kita. Saat dunia semakin membabi buta dan kekuasaan mulai meraja lela, saat pikiran dan hati nurani bisa dibutakan dengan harta, kita temui hanya 1 orang mahasiswa yang masih bertahan mengusung peran yang sudah mulai tua dan renta. Kita masih bisa tersenyum, karena yang 1 orang itu adalah kita. HIDUP MAHASISWA !!!

Padang, 26 Mei 2009

Priska Natalia (07120015)

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas


FENOMENA DIRI


Sering kita menilai seseorang berbuat salah

Tapi, pernahkah kita melihat diri kita sendiri?

Membuka lembar demi lembar perbuatan diri

Dan mulai menganalisa kesalahan-kesalahan ini?


Sering kita disibukkan oleh urusan-urusan orang lain

Dan sering kita mempersalahkan kesalahan-kesalahan orang lain

Namun, tahukah kita…

Mempersalahkan kesalahan orang lain, adalah suatu kesalahan


Sering kita membicarakan saudara kita sendiri yang berbuat salah

Mengulang-ulang membicarakan kesalahannya

Dan menyesali perbuatan yang dilakukannya

Tapi, pernahkah kita berfikir…

Bahwa membicarakan kesalahan saudara sendiri, adalah suatu kesalahan

Dan…, belum tentu orang yang membicarakan lebih baik dari orang yang dibicarakan


Kita hanya bisa mengeluh dan mengeluh saja dengan keadaan itu

Meneteskan air mata, tanpa ada suatu solusi nyata

Apakah dengan mengeluh dan terus mengeluh

Semua akan selesai?

Apakah dengan keluhan-keluhan tersebut akan mengembalikan keadaan ke kondisi semula?

Jawabannya…

TIDAK saudaraku….



KISAH TENTANG LMA & LMK


Padang, 20 Mei 2009

KISAH TENTANG LMA & LMK


LMA kependekan dari Leukimia Mieloblastik Akut, sedangkan LMK adalah kependekan dari Leukimia Mielositik Kronik. Tadi aku pratikum SHDT dan SST LMA & LMK. Nah lo, binggung kan apa itu SHDT dan SST? Kebanyakan istilah ya… Aku aja pertamanya binggung. SHDT itu kependekan dari Sediaan Hapus Darah Tepi, sedangkan SST itu Sumsum Tulang.

Kalau kita berbicara tentang LMA, maka ada 8 tingkatan yang akan kita pelajari dan yang akan kita observasi penampakannya. Mulai dari M0-M7, dengan model dan gaya yang berbeda-beda. Sebelum lebih jauh bercerita tentang M0-M7, lebih baik kita berkenalan dulu dengan perkembangan seri mielopoetik dan Monopoetik, mungkin juga akan ditambah dengan seri eritropoetik dan megakariopoetik.

MIELOPOETIK.

Mieloblast à ukuran besar, anak inti 2-4, sitoplasma sedikit dan tidak bergranul.

Promielosit à ukuran hampir sama besar dengan mieloblast, tapi sitoplasma lebih besar dan sudah memiliki granul primer (granul yang belum berdiferensiasi), anak inti 1-2, sering ditemukan aur rood (fusi dari granul-granul) di sitoplasma (batang berwarna merah, seperti gambaran mycobacterium tuberculosis)

Mielosit à sudah melakukan diferensiasi (granul sekunder) menjadi bakal basofil (sitoplasma biru, granul seperti bercak darah dan menutupi inti), eosinofil (sitoplasma merah, granul seperti kelereng) dan netrofil (granul halus), ukuran inti akan menjadi lebih kecil, sehingga sitoplasma kelihatan lebih besar, dan salah satu intinya datar.

Metamielosit à inti berlekuk seperti ginjal, sitoplasma mengikuti diferensiasi tadi.

Batang

Segmen

MONOPOETIK

Monoblast à hampir mirip mieloblast, tapi pada inti ada lekukan

Promonosit à inti berlobus-lobus seperti girus

Monosit à inti agak longgar, lebih berlekuk

ERITROPOETIK

Rubriblast à besar, inti seragam, ada daerah perinuklear hallo, ada tonjolan, sitoplasma biru.

Prorubrisit à inti sudah mengalami kromatinisasi (gelap terang, seperti papan catur), sitoplasma biru muda.

Rubrisit à kromatin lebih padat, inti gelap terang, sitoplasma sudah kemerahan (karena sintesis Hb sudah dimulai)

Metarubrisit à inti sudah ditepi, kromatin inti padat, sitoplasma sudah sama dengan eritrosit

Retikulosit à inti sudah hilang, tapi masih tinggal sisa-sisa DNA, sebelum menjadi eritrosit

Eritrosit

MEGAKARIOPOETIK

Megakarioblast à besar dengan inti yang besar dan berlobus

Promegakariosit

Megakariosit à sitoplasma tidak memiliki batas yang jelas, merupakan tanda-tanda untuk melepaskan trombosit

Trombosit

Oke, udah berkenalan dengan seri-seri hemapoetiknya? Sekarang kita masuk ke pembagian LMA nya, siap?

M0 à LMA yang tidak berdiferensiasi

M1 à LMA tanpa maturasi, jadi gambarannya Blast >>>, pro <3%

M2 à LMA dengan maturasi, pertama gambaran blastnya >> tapi sekarang mulai ada yang matang (blast + matang >>>)

M3 à Leukimia Promielosit Hipergranulasi, kadang ditemukan multiple auer rood.

M4 à Leukimia Mielomonositik, gambarannya ditemukan mieloblast dan monoblast dengan perbandingan (Mono:Mielo=4:1)

M5 à Leukimia Monositik Akut, ada 2 gambaran :

M5a = blast >>>

M5b = pro+monosit (matang ) >>>

M6 à eritroleukimia, gambaran mieloblast + rubriblast >>>

M7 à Leukimia Megakariosit Akut, dengan gambaran megakariosit >30%

Bagaimana dengan gambaran LMK? SHDT LMK seperti “pasar malam”, maksudnya kita bisa menemukan semua tingkat pematangan sel, mulai dari mieloblast sampai segmen. Tapi pada LMK lebih banyak ditemui sel matang, mieloblast hanya <>

Oke deh, itulah pratikumku tadi pagi. Awalnya sih sulit untuk bedain jenis-jenis selnya, soalnya mirip-mirip. Jika dilihat satu-satu sih kelihatan beda, tapi kalau dah di kasih slide lengkap dengan jenis sel yang amburadul didalamnya, maka pusinglah kepala ini rasanya untuk menentukan seri-seri hemopoetiknya. Tapi jangan khawatir sekarang aku udah dapat ciri-ciri khas masing-masing seri, he….he…. bentar lagi ujian Blok 11. Doain aku ya… supaya lulus dengan nilai yang memuaskan, soalnya kata Pak Irza, blok hematologi ini emang terlihat simple tapi setelah dievaluasi banyak angkatan yang nggak lulus di blok ini. Hick…hick… aku jadi takut. Sekarang harus semangat. Karena kita hanya bisa berusaha dan berdoa, kemudian bertawakal kepada Allah SWT, karena Dia lah yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Dia bisa mengubah sesuatu seperti membalikkan telapak tangan, bahkan bisa lebih cepat dari kedipan mata. Subahanallah…..



AKU SEDANG INGIN MENANGIS……………



Aku ingin menangis

Entah mengapa air mataku keluar begitu saja

Meluapkan semua perasaan dihati

Ya, aku sedang ingin menangis……..


Hatiku sesak,

Mereka menyakitinya…

Hingga aku harus menangis

Karena memang aku ingin menangis


Ya, Allah…..

Aku makhluk Mu yang sangat lemah

Yang hanya bisa menangis dan menangis

Ya, Allah…. Sekarang aku sedang menangis


Saat bulir-bulir air mata itu mengalir

Angin sejuk juga mengalir memasuki rongga dadaku

Satu bulir air mata

Membuang jauh satu buah kesesakkan hati……….


Ya, aku hanya sedang ingin menangis

Menangisi semuanya

Semua tentangku yang patut ku tangisi

Termasuk dosa-dosaku….


Ya Allah…

Saat air mata ini masih tercurah

Ku bermohon kepadaMu

Ampuni dosaku dan dosa kedua orang tua ku

Dan sayangilah keduanya, sebagaimana keduanya menyayangiku semenjak kecilku.


Ya Allah…

Ampunilah dosa orang-orang yang telah menyakitiku

Dan telah membuat hatiku teriris

Sehingga matapun meneteskan air

Air yang penuh dengan kesesakkan

Karna itulah, sekarang aku sedang ingin menangis …….


Jumat, 15 Mei 2009

9 Keajaiban Alam Minangkabau



1. Jembatan Akar - Pesisir Selatan

2. Ngarai Sianok - Bukit Tinggi

3. Danau Singkarak - Tanah Datar

4. Gunung Singgalang - Padang Panjang

5. Laut Mentawai - Mentawai

6. Lembah Arau - Limapuluh Kota

7. Danau Maninjau - Agam

8. Danau Kembar - Solok

9. Pantai Air Manih/Batu Malin Kundang - Padang

Gimana????? Tertarik untuk mengunjungi semuanya???

So, VISIT WEST SUMATERA !!!


AIR CELUPAN BATU PONARI, PANTASKAH DISEBUT PENGOBATAN ?


Oleh : Priska Natalia (07120015)

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Tak peduli, apakah air celupan batu Ponari itu higenis atau tidak, yang penting mereka percaya, bahwa air itu bertuah dan bisa menyembuhkan segala macam penyakit”. (Kompas, 23 Februari 2009)

Ironis memang, masyarakat Indonesia berlomba-lomba untuk mendapatkan segelas air celupan batu Ponari dengan satu tujuan, kesembuhan. Mereka tidak peduli lagi apakah air itu bersih atau tidak, yang penting mereka percaya bahwa dengan meminum air tersebut mereka akan sembuh. Tapi pertanyaannya, benarkah semua pasien Ponari yang meminum air celupan batu tersebut akan sembuh? Ternyata tidak, memang banyak yang mengaku sembuh tapi banyak pula yang mengaku penyakitnya tidak sembuh bahkan menambah parah penyakit tersebut. Sayangnya, masyarakat yang datang ke Ponari tidak juga berkurang jumlahnya, masih banyak yang percaya dan yakin dengan kesembuhan pengobatan ala Ponari ini. Mungkin kata percaya dan yakin inilah yang harus kita garis bawahi.

Secara medis air celupan batu Ponari ini tidak layak untuk dikonsumsi, apalagi digunakan untuk pengobatan. “Air dalam kemasan saja masih ada yang tidak sehat, apalagi air yang dicelup batu dan tangan Ponari. Siapa yang menjamin kebersihan tangan Ponari?”, kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Jombang, Dr. Pudji Umbaran.

Kita tahu, secara normal tubuh manusia mengandung 1013 kuman, tidak terkecuali di tangan Ponari si dukun cilik itu. Hal ini mungkin tidak begitu berbahaya bagi orang sehat atau orang yang daya tahan tubuhnya baik, tapi bagaimana dengan pasien-pasien Ponari yang datang dengan bermacam-macam penyakit dan mengalami gangguan pada daya tahan tubuh mereka? Akankah air celupan batu Ponari tersebut memberikan khasiat atau malah membuat penyakitnya menjadi tambah gawat?

Sebenarnya, adanya kuman dalam tubuh manusia (hunbungan hospes-kuman) tidak selalu diikuti dengan keadaan sakit. Wujud hubungan hospes-kuman tersebut ditentukan oleh keseimbangan antara virulensi kuman dan daya tahan manusia (hospes). Virulensi kuman adalah derajat patogenitas yang dinyatakan dengan jumlah mikroorganisme atau mikrogram toxin yang dibutuhkan untuk membunuh binatang percobaan dengan syarat-syarat tertentu. Sedangkan patogenitas adalah kemampuan suatu mikroorganisme untuk menyebabkan penyakit. Jadi kita bisa sakit tergantung pada mikroorganisme yang menyerang dan keadaan tubuh kita saat itu. Sehingga suatu hubungan hospes-kuman memberikan gambaran yang berbeda-beda setiap orangnya.

Air celupan batu Ponari tidak bisa dijamin kebersihannya apalagi kesterilannya. Dalam ilmu kedokteran, untuk melakukan suatu tindakan invasi kepada pasien, maka salah satu yang harus dilakukan oleh dokter adalah melakukan sterilisasi, baik pada alat-alat yang digunakan ataupun pada tangan dan bagian tubuh dokter yang akan berkontak dengan pasien. Sterilisasi adalah setiap proses (kimia atau fisik) yang membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme. Hal itu dilakukan adalah untuk mencegah terjadinya infeksi mikroorganisme baik pada pasien maupun pada dokter sendiri. Namun, dalam kasus Ponari hal tersebut tidak dipertimbangkan sedikitpun, bahkan ada masyarakat yang nekat untuk mengambil air comberan yang telah dicelup batu Ponari karena begitu fanatiknya terhadap pengobatan ala dukun cilik ini.

Iming-iming bahwa air celupan batu Ponari dapat menyembuhkan segala macam penyakit, membuat masyarakat yang sudah putus asa dengan pengobatan medis menjadi gelap mata. Semua cara dilakukan hanya untuk mendapatkan segelas air celupan batu Ponari tersebut. Namun setelah meminum air dari Ponari, ternyata penyakitnya malah bertambah parah. Herannya, Ponari tidak pernah dituntut atau dianggap melakukan malpraktek.

Dalam UU No. 23 tahun 1992 dicantumkan masalah Pengobatan Tradisional. Pengobatan tradisional adalah salah satu upaya penyembuhan dan perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan. Di Indonesia dapat dikategorikan dalam upaya penyembuhan dengan ramuan tumbuhan obat, cara fisik (dukun beranak, sunat, akupuntur, dan lain-lain), meditasi dan penyembuhan dengan cara spiritual (doa, mantera, psikoterapi dan lain-lain). Dan dalam pasal 47 dinyatakan bahwa pengobatan tradisional harus dibina dan diawasi agar menjadi pengobatan yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya. Jadi, pengobatan tradisional tersebut boleh-boleh saja asal dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya dengan melakukan penelitian secara ilmiah. Tapi, apakah pengobatan Ponari dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya?

Oleh sebab itu Ketua IDI Jombang mengatakan bahwa, pengobatan yang dilakukan oleh Ponari tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Dalam ilmu kedokteran untuk menentukan seseorang menderita penyakit tertentu harus melalui beberapa tahap. Mulai dari anamnesis, yaitu wawancara yang dilakukan oleh dokter untuk menggali riwayat penyakit pasien. Kemudian pemeriksaan fisik, mulai dari inspeksi (melihat), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk) dan auskultasi (mendengar). Tidak hanya itu saja, dokter biasanya juga melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana. Kalau seandainya diagnosis belum tegak, maka dapat juga dilakukan pemeriksaan histopatologi atau pemeriksaan penunjang lainnya. Jadi tak semudah yang dilakukan Ponari, menyembuhkan segala macam penyakit dengan air celupan batu petir tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi pada pasiennya.

Dan serangkaian tindakan tersebut pun tidak menjamin kesembuhan total pada pasien, tergantung berat atau ringannya penyakit pasien dan tergantung pada stadium berapa pasien melakukan pengobatan. Sehingga tidak dapat dipungkiri kedatangan seseorang ke dukun atau pengobatan alternatif lainnya karena merasa putus asa dengan model penyembuhan oleh dokter.

Dalam tinjauan medis, orang yang berobat pada Ponari hanya mendapat “efek plasebo”, yaitu penderita merasakan kenyamanan sesaat, walaupun penyakitnya tidak hilang begitu saja. Efek plasebo ini juga bisa didapatkan pasien dari seorang dokter. Sebuah studi menemukan bahwa hampir sebagian internis di Chicago mengatakan telah meresepkan plasebo kepada pasien mereka selama prakteknya. Plasebo seringkali dikenal sebagai pil gula (sugar pill), sebenarnya tidak mempunyai mutu pengobatan. Selain dikenal sebagai kontrol dalam uji klinis, plasebo dipandang sebagai alat terapi dalam praktek pengobatan. Namun, menurut tim peneliti penggunaan plasebo masih diperdebatkan secara etika. Beberapa ahli etika berpendapat pasien harus tahu kalau mereka diberikan plasebo, tapi yang lain melihat tidak ada masalah dengan efek plasebo. Efek plasebo berarti beberapa pasien membaik secara spontan atau karena mereka merasa diberi obat sehingga mereka percaya sedang diobati oleh dokter padahal mereka sembuh bukan karena pengobatannya. Sama halnya dengan orang yang datang ke tempat Ponari. Setelah meneguk air ada orang yang langsung merasakan kesembuhan karena mereka percaya dengan pengobatan tersebut. Padahal penyakitnya belum hilang.

Begitu juga dengan obat-obatan yang akan diberikan dokter kepada pasien, tidak langsung diberikan begitu saja namun melalui suatu uji yang disebut dengan pengujian obat. Prosedur pengujian obat tersebut harus melalui berbagai tahap penelitian, yaitu : penelitian farmakologis preklinis, penelitian farmasi dan penelitian klinik. Penelitian farmakologi preklinik dan farmasi adalah penelitian percobaan obat pada binatang percobaan, sedangkan penelitian klinik adalah penelitian percobaan obat pada manusia. Sehingga obat yang diberikan pada pasien bukan asal-asalan saja, namun harus diuji terlebih dahulu pada binatang percobaan dengan ketentuan-ketentuan yang sudah ada. Apakah air celupan batu Ponari sudah dilakukan pengujian terhadap binatang sehingga bisa diberikan pada manusia? Untuk jawaban dari semua pertanyaan di atas, mungkin bisa kita analisa sendiri dan bisa kita jawab sendiri berdasarkan uraian yang telah diberikan.

Namun sesungguhnya, fenomena Ponari ini memberikan tantangan kepada para dokter. Untuk menjawab tantangan tersebut, dokter tidak boleh lagi tertutup dan pelit dalam memberikan informasi mengenai penyakit pada pasien. Lakukanlah suatu komunikasi efektif dengan pasien, agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dokter dan pasien yang dapat menimbulkan anggapan bahwa dokter melakukan malpraktek dan dapat menjebloskan dokter ke dalam penjara serta hasil pengobatan pun tercapai secara maksimal.


DAFTAR PUSTAKA

Fenomena Ponari dalam Tinjauan Medis dan Sosiologi oleh M. Irfan Ilmie

disadur dari: http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/23/18095223/Fenomena.Ponari.dalam.Tinjauan.Medis.dan.Sosiologi

Hampir sebagian Dokter Meresepkan Plasebo

Disadur dari :

http://www.kompas.com

Hanafiah J dan Amir A, 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Notoatmodjo S, 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Syahrurachman A, dkk. 1994. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Binarupa Aksara.

KETIKA AKU BICARA CINTA


Padang, 26 Maret 2009

KETIKA AKU BICARA CINTA


CINTA

Hanya lima huruf, yang takkan bosan untuk dibahas

Yang takkan selesai untuk diceritakan

Yang tak pernah segan untuk menghinggapi siapa saja


CINTA

Suatu fenomena yang tak pernah lekang dimakan zaman

Dari aku kecil sampai dewasa

Dunia ini selalu berbicara tentang cinta


Inilah saatnya aku berbicara tentang cinta

Sejak sekian lama aku hanya diam tanpa suara

Karena cinta itu milik kita

Rahmat dari sang pencipta


Tapi, saat cinta bicara

Kadang semua jadi hilang kesadaran

Cinta butakan kepintaran

Hingga cinta di pertuhankan


Tak ada yang salah dengan cinta

Cinta tak perlu dipersalahkan

Karena dia adalah rahmat

Namun kenapa rahmat itu kita ubah menjadi laknat???


Apa kah itu cinta?

Menghalalkan segala cara untuk mengekspresikannya

Sehingga hal haram pun dianggap biasa

Menjadi kebiasaan yang membudaya

Kemana arti cinta sesungguhnya???


Hai saudaraku…

Jangan nodai arti cinta

Karna cinta adalah hal yang berharga

Maka, jagalah cinta


Jadikan ia halal bagimu

Maka kau akan bahagia

Mendapatkan cinta dan pahala

Serta rahmat yang besar dariNya


Karena itu aku sedang menunggu cinta

Cinta yang halal bagiku

Sehingga aku bisa bicara cinta

Karena cinta itu adalah rahmat dari Nya, fitrah manusia …