Searching BL

Friday, April 23, 2010

Standar GAUL ?!?

by: Aasiyah Haniifah
Padang, 10 April 2010

Entah kenapa aku berpikir kalau negeri ini diisi oleh hampir 90% penduduk-penduduk yang "pencemooh", kurang penghargaan dan kurang apresiasi.

Ketika seorang teman maju ke depan untuk mengajukan ide cemerlang dari pikirannya, ia malah ditertawakan. Ketika seorang teman melakukan hal-hal kebajikan yang enggan dilakukan orang bahkan tak pernah dilakukan oleh siapapun, ia disindir dan diejek. Ketika seorang teman berusaha untuk jujur dalam ujian dan kesehariannya, ia dianggap sok suci, naif, atau apalah..... Ketika seorang teman berusaha untuk berhenti merokok, malah ia dianggap "cemen", anak mami atau nggak GAUL, maka ia dijauhi dan ditertawakan. 

Kadang atau bahkan sering aku berolok-olok dengan adik ku, saat ia berkata padaku " ah, uni nggak GAUL !!!". Lalu balasku, "emang apa standar GAUL mu?".

Ya, sebenarnya apasih standar GAUL kita? Coba tanyakan pada hati nurani kita. Karena aku pun sedang melakukan itu. Muhasabah diri.............

(Di sudut ruangan - dalam keheningan)

Thursday, April 22, 2010

Lukisan Alam...

Plitvice Lakes – The Most Beautiful Lakes In Europe


 Harimau Putih

Diunduh dari : Mim Yahoo

Hari yang Unik !?@#!



Alhamdullillah........
Alhamdullillah..........
Alhamdullillah.........

Tak bosan-bosan mulut ku mengucapkan rasa syukur pada hari ini. Hari ini benar-benar unik. Tepatnya beberapa hari ini adalah hari yang membuat semua faktor stress ku meningkat. Dan tepatnya lagi beberapa menit yang lalu adalah waktu dimana faktor stress ku mencapai titik tertingginya.

Untung beberapa menit setelah itu Allah memberiku secerca cahaya Nya. And I'm Happy now. Yang membuatku menyunggingkan senyum disetiap kayuhan sepeda ku siang ini. Rasanya, semua hal yang membuatku stress beberapa menit lalu sudah hilang menguap entah kemana.

I'M HAPPY NOW ^_^

Thursday, April 15, 2010

Lipatan kecil yang diabaikan…


Lipatan karpet itu tidak fenomenal, tapi menjadi fenomenal bagi ku. Karpet yang terlipat itu tepat di depan pintu masuk mesjid. Tak ada satu orang pun yang perhatian dengan lipatan karpet itu. Tidak juga dengan aku sebenarnya. Tapi mungkin karena posisi duduk ku yang persis di samping pintu masuk mesjid, memaksaku untuk “ngeh”.

Setiap orang masuk, aku tersadar. Kenapa? Karena lipatan kecil pada karpet itu selalu “mengait” setiap kaki yang masuk. Satu orang, dua orang, tiga orang, sampai….. entah…. Sekarang entah sudah berapa orang, aku pun tidak menghitungnya atau tepatnya sulit untuk menghitungnya. Karena, hampir 99,99% yang masuk mesjid, kakinya akan terkait dengan lipatan karpet itu. Tapi tak ada satu orang pun yang “ngeh”. Tidak juga aku sebenarnya.

Satu orang lagi masuk, ujung jari kakinya menyentuh lipatan itu lagi, aku melirik lagi ke lipatan itu. Ketika satu orang masuk lagi, lipatan itu “mengait” kakinya lagi. Sampai-sampai dia tergamang dan hilang keseimbangan, beruntung kalau dia saat itu tidak terjatuh.

Ya, begitulah. Kita selalu menyepelekan hal-hal kecil. Masalah-masalah kecil. Padahal mungkin saja hal itu yang kan membuat kita terjatuh. Ya, mungkin kita baru SADAR atau “baru akan SADAR” saat kita TERJATUH, saat darah telah mengucur pada salah satu anggota tubuh kita. Nauzubillah. Akankah kita korbankan sesuatu yang tak sepatutnya berkorban? Sebenarnya pribahasa klasik ini masih berlaku, maka lakukanlah “MENCEGAH ITU LEBIH BAIK DARI MENGOBATI”.

Lipatan karpet yang diabaikan ini, mungkin bisa kita analogikan dengan kehidupan sehari-hari kita. Lipatan itu bak masalah kita. Atau seperti kesalahan-kesalahan kecil kita yang selalu kita abaikan. Lama-lama kesalahan itu menggunung dan menghimpit kita. Maka SADAR lah sebelum kita TERPAKSA HARUS SADAR.

Sampai saat ini, tak ada satu pun yang “ngeh” dengan lipatan karpet itu. Tidak juga aku sebenarnya….
(Mesjid Dawa’ul Ilmi – Bada’ Tasqif)

Friday, April 9, 2010

Paru Ku....

Jum'at, 9 April 2010
By: Aasiyah Haniifah

Ruangan itu penuh asap.
Aku sesak.
Aku batuk.
Jangan tambah lagi predisposisi bagi paru ku.
Aku tidak bangga dengan prediket ini, prediket "PEROKOK PASIF".
Mungkin kamu bisa bangga dengan prediketmu, prediket "PEROKOK AKTIF".
Ruangan itu bertambah sesak, dadaku pun bertambah sesak.
Mohon, akhirilah hal itu...

Ku lihat sekelilingku, tak ada yang ambil pusing.
Ada yang asyik tidur, dengar musik atau bercengkrama dengan teman sebangkunya.
Aku sebenarnya ambil pusing, atau sudah sangat pusing...
Tapi, sekarang aku masih tanpa tindakan. Duduk terpaku di sudut jendela sambil menutup mulut dan hidungku.

(Bus Kota Pasar Baru - Jati, dengan penuh asap yang mengepul)
 

Sendiri Menyepi

(by: Edcoustic)


Sendiri menyepi...
Tenggelam dalam renungan
Ada apa aku, seakan ku jauh
Dari ketenangan...

Perlahan kucari...
Mengapa diriku hampa
Mungkin ada salah, mungkin ku tersesat
Mungkin dan mungkin lagi

Oh tuhan aku merasa
Sendiri menyepi...
Ingin ku menangis menyesali diri
Mengapa terjadi...

Sampai kapan ku begini
Resah tak bertepi
Kembalikan aku pada cahaya-Mu
Yang sempat menyala
Benderang di hidupku...

Thursday, April 1, 2010

IMPIAN NO. 19-22


Ini berawal saat video “Danang” ku tonton. Four Tumb deh buat mas Danang yang bisa mengelitik imajinasi terdalamku. Impian ini ku buat pada tanggal 20 Juni 2009 lalu. Mungkin sedikit mustahil, bahkan orang tuaku saja “galak rusuah” mendengar impianku ini. Bukannya nggak mendukung, tapi rasanya impian ini terlalu muluk-muluk.

Siang ini, impian yang sudah hampir satu tahun aku tulis, sekarang mulai menggeliat lagi. Beberapa bulan belakangan ini aku tidak begitu fokus dengan impian-impian ku itu. Saat skil lab, saat aku duduk manis “majalepok” di lantai bangsal anak. Yang merupakan salah satu tempat favoritku di rumah sakit. Kenapa? Karena anginnya begitu sepoi-sepoi dan menyejukkan, serasa di pinggir pantai. Sejuuu…kkk sekali. Untuk beberapa kalinya aku ingin tidur di tempat itu.

Ku jejali pemandangan disekitarku. Banyak pengunjung yang duduk seperti aku, bahkan sampai mengelar tikar dan kasur di sudut-sudut ruangan. Miris aku melihatnya. Teras-teras rumah sakit, disulap begitu saja menjadi tempat penginapan sementara. Kembali impian itu datang menyeruak dikepala ku. Imajinasiku mulai menari-nari. Pikiranku sedang melayang tinggi. Mungkin hanya badanku saja yang sedang duduk di kota Padang sekarang. Tapi jiwa dan pikiranku sudah terbang melayang-layang, melewati ruang dan waktu. Menembus dimensi. Ku susun kembali rencana yang sudah ku buat beberapa bulan yang lalu. Waw, begitu indah rencana itu. Andaikan aku bisa segera mewujudkannya. Tapi, aku sedikit ragu. Aku meragukan diriku sendiri. Aku meragukan, apakah aku sanggup untuk menjadi seorang dokter. Profesi yang berhadapan dengan nyawa seseorang, hidup dan mati. Bahkan aku meragu, apakah aku pantas menjadi seorang dokter?

Kembali aku amati disekelilingku. Tak kuhiraukan percakapan temanku yang sedang asyik dengan persiapan skil lab kami. Aku merasakan mendapat “Power” yang luar biasa hebat. Mengelegar-gelegar. Ide-ide segar yang berloncatan seperti kembang api yang sedang di sulut. Tapi, di satu sisi. Aku serasa ditegur keras. Aku terdiam dan terpaku. Akankah keadaan tetap seperti ini? Bisakah aku merubahnya seperti negeri impianku??? Negeri yang selalu ada dalam setiap hayalku, disetiap mimpiku….

Tak jauh dari tempat duduk ku, aku  melihat anak dengan seragam merah putih, yang masih lengkap. Iya duduk diatas tikar yang digelar di lantai bangsal anak. Dan tak jauh dari tempat itu aku membaca suatu tanda peringatan besar, yang mungkin masih bisa di baca untuk jarak beberapa meter “MOHON TIDAK DUDUK/TIDUR DI AREA INI”. Entahlah, entah apa maksud tulisan itu. Mungkin saja hanya sekedar pajangan di persimpangan jalan, aku pun tak tahu.

Aku merasa tidak nyaman dengan cara seperti ini. Jujur, jujur sekali aku ungkapkan. Mungkin hanya di sini aku bisa bicara. Banyak sekali hal-hal yang ingin aku sampaikan, ingin aku bagi dengan generasi muda ini, generasi penerus bangsa. Akankah negara ini hancur hanya gara-gara kita? Zalim sekali kita. Kenapa kita tak kritis sama sekali? Hanya bisa menerima dan menerima saja. Oke, kita harus bedakan antara menghormati dan menghargai dengan sikap statis (nrimo). Kenapa kita tidak berusaha merubahnya, apalagi kalau kita tahu kalau itu hal yang salah??? Ya, karena hal inilah yang dilakukan oleh senior-senior yang dulu, jadi terima sajalah jangan banyak bicara. Kalau ada yang mudah kenapa minta yang sulit? Tapi puaskah kita hanya menjadi orang yang statis? Coba lah sekali-kali berpikir out of the box. Lakukan evaluasi dan renovasi.

Aku benar-benar geregetan melihatnya. Sepanjang perjalanan menelusuri lorong-lorong rumah sakit, aku berbicara sendiri dalam hatiku. Berkompromi dengan otakku. Dan coba atur strategi baru. Aku tak sadar, kalau aku berjalan sendiri keluar meninggalkan teman-temanku jauh dibelakang sana. Kadang kita butuh itu. Butuh waktu untuk sendiri. Butuh waktu untuk berpikir jernih. Aku suka rumah sakit. Karena di rumah sakit, aku akan melihat banyak orang sakit dan itu membuat ku sadar akan begitu besarnya nikmat sehat. Membuatku bersyukur, bersyukur atas segala sesuatu.

Entah kapan impian no.19-22 ku kan terwujud. Mungkin 10 tahun lagi, atau 15 tahun lagi atau 20 tahun lagi. Aku pun tak tahu. Ku harap secepatnya. Aku akan buktikan pada dunia, aku akan ubah semuanya. Aku akan membuatnya out of the box. Silahkan tertawa, silahkan tak percaya. Tapi tunggu saja pembuktiannya. Impian itu rinci di kepala ku. Mungkin harus kutuliskan di sini agar tak usang dimakan waktu. Yang ku takutkan, hanya “lupa” yang tinggal dikepalaku beberapa tahun yang akan datang. Mudah-mudahan tidak.

10 tahun atau 20 tahun yang akan datang. Sebuah rumah sakit berskala Internasional akan berdiri megah di kota Payakumbuh. Aku sudah menyediakan tempat untuk berdirinya bagunan itu. Akan ada 1 bangunan utama, 1 mesjid, dan beberapa pavilium penginapan pasien dan keluarga. Oh ya, di paviliun penginapan akan dilengkapai dengan sebuah mini market, pustaka mini + wireless, tempat bermain anak. Insyalllah semua yang bekerja di rumah sakit ini adalah orang Indonesia. Kami juga akan menyediakan tata boga yang akan bekerja sama dengan ahli nutrisi, sehingga dapat dihasilkannya makanan yang enak untuk orang sakit. Satu hal yang ingin aku tekankan di sini “KAMI AKAN MEMBERIKAN PELAYANAN SEPERTI HOTEL BERBINTANG”. Moto kami 5 S (senyum, sapa, salam, sopan, santun). Mudah-mudahan ini menjadi ladang amal dan medan jihad bagiku. Mungkin takkan kutuangkan semua disini, ku yakin takkan cukup waktuku untuk menuangkan semua isi pikiranku tentang impian no.19-22 ini.

Ha….ha…. semua orang boleh tertawa sekeras-kerasnya. Orang tuaku pun tertawa miris mendengar impianku ini. Tapi entah lah, aku inginkan ini semua. Aku ingin, orang luar negeri akan berobat ke Indonesia, bukan orang indonesia yang akan di “Oper” ke luar negeri lagi. Kapankah masa ini kan datang? Aku pun tak tau. Sekarang aku sedang meniti sedikit demi sedikit. Setelah bergelar dokter, insyallah aku akan menyempurnakan ½ agamaku. Saat itu aku berumur kira-kira 24-25 tahun. Aku akan berbakti menjadi dokter umum dulu di kampungku. Dua atau tiga tahun kemudian, setelah aku mempunyai anak, aku akan ambil spesialis obgyn, kalau bisa di luar negeri. Aku belum tahu, butuh berapa lama untuk menamatkan spesialis ini, kalau di M.Djamil butuh waktu kira-kira 3,5 tahun. Ya, anggap saja aku butuh waktu paling lama 5 tahun. Berarti usiaku saat itu sekitar 33 tahun. Oke, kita tidak menafikkan kalau segala impianku itu butuh duit alias modal yang sangat besar. Karena aku juga berencana untuk memberi pengobatan gratis dengan pelayanan tetap seperti hotel bintang 5 pada masyarakat tidak mampu, juga pada guru-guruku, baik itu guru-guru TK, SD, SMP dan SMA. Aku tak kan pernah melupakan beliau. Tanpa jasanya, mustahil sekali aku ada di Fakultas Kedokteran ini sekarang. Jadi aku memutuskan untuk stay dan kerja di luar negeri beberapa tahun dengan tujuan cari uang dan cari koneksi (pasien yang bisa aku boyong untuk berobat ke rumah sakit ku kelak). Mungkin butuh waktu 5-8 tahun. Selagi aku bekerja di luar negeri, mungkin aku bisa kerjasama dengan pemerintahan daerah dan memulai pembangunan rumah sakit tersebut. Ya, kira-kira uda berapa ya umur ku? Sekita 40 tahun. Belum begitu tua, he….he….. Semoga Allah mempermudah jalanku, meluruskan niatku dan orang-orang yang ku cintai mendukung impianku ini. Mudah-mudahan ketika aku berusia 45 atau 50 tahunan, rumah sakit itu sudah berdiri megah sesuai dengan impianku selama ini. Amin….

Tulisan ini bukan bermaksud apa-apa. Hanya sebagai motivasi bagi diriku sendiri dan mudah-mudahan juga memotivasi bagi banyak orang. Seorang ahli mengatakan bahwa, tuliskanlah impianmu dengan detail, maka kamu akan mudah untuk mewujudkannya. Bukan masalah terwujud atau tidaknya, tapi impian dan rencana adalah awal dari sebuah kesuksesan.

Apa mimpimu kawan? Tuliskanlah pada selembar kertas dan gambarkan mimpimu secara detail, sekali lagi gambarkan secara detail… Dan lihat apa yang kan terjadi. Tapi ingat, jangan lupakan Zat yang Maha berkuasa, yang menciptakan dirimu dan diriku serta semua yang ada di dunia ini, Allah SWT……….

CARA CEPAT HAMIL

Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan kehadiran seorang anak. Berbagai usaha akan dilakukan agar harapan tersebut dapat tercapai...