Senin, 22 Maret 2010
INTERNATIONAL STANDARD FOR TUBERCULOSIS CARE (ISTC)
Standard Untuk Diagnosis
STANDARD 1
•Setiap orang dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak jelas
penyebabnya harus dievaluasi untuk tuberkulosis
•Untuk pasien anak, selain gejala batuk, entry untuk diagnosis adalah berat badan
yang sulit naik dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir atau gizi buruk
STANDARD 2
•Semua pasien (dewasa, remaja, dan anak yang dapat mengeluarkan dahak) yang
diduga mengalami TB Paru harus menjalani pemeriksaan dahak mikroskopik
minimal 2 dan sebaiknya 3 kali. Jika mungkin minimal satu spesimen harus berasal
dari dahak pagi hari
STANDARD 3
•Pada semua pasien (dewasa, remaja, anak) yang diduga mengalami TB Ekstra
Paru, spesimen dari bagian tubuh yang sakit seharusnya diambil untuk pemeriksaan
mikroskopik dan jika tersedia fasiliti dan sumber daya, dilakukan pemeriksaan biakan
dan histopatologi
•Sebaiknya dilakukan juga pemeriksaan foto toraks untuk mengetahui ada tidaknya
TB Paru dan TB Milier. Pemeriksaan dahak perlu dilakukan, bila mungkin juga pada
anak
STANDARD 4
•Semua orang dengan temuan foto toraks diduga TB seharusnya menjalani
pemeriksaan dahak secara mikrobiologi
STANDARD 5
•Diagnosis TB Paru sediaan apus dahak Negatif harus didasarkan kriteria berikut :
minimal pemeriksaan dahak mikroskopik 3 kali negatif (termasuk minimal 1 kali
dahak pagi hari) ; temuan foto toraks sesuai TB dan Tidak Ada Respons terhadap
antibiotika spektrum luas (Fluorokuinolon harus dihindari karena aktif terhadap M. TB
complex sehingga dapat menyebabkan perbaikan sesaat pada pasien TB.
•Untuk pasien ini, jika tersedia fasiliti, biakan dahak seharusnya dilakukan. Pada
pasien yang diduga terinfeksi HIV evaluasi diagnostik harus disegerakan.
STANDARD 6
•Diagnosis TB Intratoraks (paru, pleura dan KBG hilus atau mediastinum) pada Anak
dengan gejala namun sediaan apus dahak negatif seharusnya didasarkan atas
kelainan radiografi toraks sesuai TB dan paparan pada kasus TB menular atau bukti
infeksi TB (uji kulit tuberkulis positif atau interferron gamma release assay).
•Untuk pasien seperti ini, bila tersedia fasiliti, bahan dahak seharusnya diambil untuk
biakan (dengan cara batuk, bilas lambung atau induksi dahak)
•(ADD) Untuk pelaksanaan di Indonesia, diagnosis TB intratoraks pada anak
didasarkan atas pajanan kepada kasus TB yang menular atau bukti infeksi TB (uji
kulit tuberkulin positif atau interferon gamma release assay) dan kelainan radiografi
toraks sesuai TB
Standard Untuk Pengobatan
STANDARD 7
•Setiap praktisi yang mengobati pasien TB mengembang tanggung jawab kesehatan
masyarakat yang penting. Untuk memenuhi tanggung jawab ini praktisi tidak hanya
wajib memberikan paduan obat yang memadai tapi juga harus mampu menilai
kepatuhan pasien kepada pengobatan serta dapat menangani ketidakpatuhan bila
terjadi. Dengan melakukan hal itu, penyelenggara kesehatan akan mampu
meyakinkan kepatuhan kepada paduan sampai pengobatan selesai
STANDARD 8
•Semua pasien (termasuk mereka yang terinfeksi HIV) yang belum pernah diobati
harus diberi paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional
menggunakan obat yang bioavailabilitinya telah diketahui.
•Fase awal harus terdiri dari isoniazid, rifampisin, piranzinamin, dan etambutol.
•Fase lanjutan yang dianjurkan terdiri dari isoniazid dan rifampisin diberikan selama
4 bulan.
•Isoniazid dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif yang pada
fase lanjutan yang dapat dipakai jika kepatuhan pasien tidak dapat dinilai, akan
tetapi hal ini berisiko tinggi untuk gagal dan kambuh, terutama untuk pasien yang
terinfeksi HIV.
•Dosis OAT yang digunakan harus sesuai dengan rekomendasi internasional.
Kombinasi dosis tetap yang terdiri dari kombinasi 2 obat (RH), 3 obat (RHZ), dan 4
obat (RHZE) sangat direkomendasikan terutama jika menelan obat tidak diawasi.
•(ADD) Etambutol boleh dihilangkan pada fase awal pengobatan pasien dewasa dan
anak dengan sediaan apus dahak negatif, tidak mengalami TB paru luas atau
penyakit ekstraparu yang berat, serta diketahui HIV negatif
•(ADD) Secara umum terapi TB diberikan selama 6 bulan, namun pada keadaan
tertentu (meningitis TB, TB milier dan TB berat lainnya) terapi TB diberikan lebih
lama (9-12 bulan) dengan paduan OAT yang lebih lengkap sesuai dengan derajat
penyakitnya.
STANDARD 9
•Untuk membina dan menilai kepatuhan pengobatan, suatu pendekatan pemberian
obat yang berpihak kepada pasien, berdasarkan kebutuhan pasien, dan rasa saling
menghormati antara pasien dan penyelenggara kesehatan, seharusnya
dikembangkan untuk semua pasien.
•Pengawasan dan dukungan seharusnya sensitif terhadap jenis kelamin dan spesifik
untuk berbagai usia dan harus memanfaatkan bermacam-macam intervensi yang
direkomendasikan serta layanan pendukung yang tersedia, termasuk konseling dan
penyuluhan pasien.
•Elemen utama dalam strategi yang berpihak kepada pasien adalah penggunaan
cara-cara menilai dan mengutamakan kepatuhan terhadap paduan obat dan
menangani ketidakpatuhan, bila terjadi. Cara-cara ini seharusnya dibuat sesuai
keadaan pasien dan dapat diterima oleh kedua belah pihak, yaitu pasien dan
penyelenggara pelayanan.
•Cara-cara ini dapat mencakup pengawasan langsung menelan obat (directly
observed therapy-DOT) oleh pengawas menelan obat yang dapat diterima dan
dipercaya oleh pasien dan sistem kesehatan
STANDARD 10
•Semua pasien harus dimonitor responsnya terhadap terapi ; penilaian terbaik pada
pasien TB adalah pemeriksaan dahak mikroskopik berkala (2 spesimen) minimal
pada waktu fase awal pengobatan selesai (2 bulan), pada lima bulan, dan pada akhir
pengobatan.
•Pasien dengan sediaan apus dahak positif pada pengobatan bulan ke5 harus
dianggap gagal pengobatan dan pengobatan harus dimodifikasi secara tepat (std.14
dan 15).
•Pada pasien TB ekstraparu dan TB anak, respons pengobatan terbaik dinilai secara
klinis. Pemeriksaan foto toraks umumnya tidak diperlukan dan dapat menyesatkan.
•(ADD) Respons pengobatan pada pasien TB milier dan efusi pleura atau TB paru
BTA negatif dapat dinilai dengan foto toraks
STANDARD 11
•Rekaman tertulis tentang pengobatan yang diberikan, respons bakteriologis, dan
efek samping seharusnya disimpan untuk semua pasien
STANDARD 12
•Di daerah dengan prevalensi HIV tinggi (> 5 % penduduk) pada populasi umum dan
daerah dengan kemungkinan tuberkulosis dan infeksi HIV muncul bersamaan,
konseling dan uji HIV diindikasikan bagi Semua pasien TB sebagai bagian
penatalaksanaan rutin
•Di daerah dengan prevalensi HIV yang lebih rendah, konseling dan uji HIV
diindikasikan bagi pasien TB dengan gejala dan/atau tanda kondisi yang
berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB yang mempunyai riwayat risiko tinggi
terpajan HIV
STANDARD 13
•Semua pasien dengan TB dgn infeksi HIV seharusnya dievaluasi untuk menentukan
perlu/tidaknya pengobatan antiretroviral (ARV) diberikan selama masa pengobatan
TB.
•Perencanaan yang tepat untuk mengakses ARV seharusnya dibuat untuk pasien
yang memenuhi indikasi.
•Mengingat kompleksnya penggunaan serentak OAT dan ATV, konsultasi dengan
dokter ahli di bidang ini sangat direkomendasikan sebelum mulai pengobatan
serentak untuk infeksi HIV dan TB, tanpa memperhatikan mana yang muncul lebih
dahulu. Bagaimanapun juga pelaksanaan pengobatan TB tidak boleh ditunda.
•Pasien TB dengan infeksi HIV juga seharusnya diberi kotrimoksazol sebagai
pencegahan infeksi lainnya.
STANDARD 14
•Penilaian kemungkinan resistensi obat, berdasarkan riwayat pengobatan OAT
terdahulu, paparan dengan sumber yang mungkin resisten obat, dan prevalensi
resistensi obat dalam masyarakat seharusnya dilakukan pada semua pasien.
•Pasien gagal pengobatan dan kasus kronik seharusnya selalu dipantau
kemungkinan akan resistensi obat.
•Untuk pasien dengan kemungkinan resistensi obat, biakan dan uji sensitifiti obat
terhadap RHE seharusnya dilaksanakan segera.
STANDARD 15
•Pasien TB yang disebabkan kuman resisten obat (khususnya MDR) seharusnya
diobati dengan paduan obat khusus yang mengandung OAT lini kedua. Paling tidak
harus digunakan 4 obat yang masih efektif dan pengobatan harus diberikan paling
sedikit 18 bulan.
•Cara-cara yang berpihak kepada pasien disyaratkan untuk memastikan kepatuhan
pasien terhadap pengobatan.
•Konsultasi dengan penyelenggara pelayanan yang berpengalaman dalam
pengobatan pasien dengan MDR-TB harus dilakukan.
Standard Untuk Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat
STANDARD 16
•Semua penyelenggara pelayanan untuk pasien TB seharusnya memastikan bahwa
semua orang (khususnya anak balita dan orang terinfeksi HIV) yang mempunyai
kontak erat dengan pasien TB menular seharusnya dievaluasi dan ditatalaksana
sesuai dengan rekomendasi internasional.
•Anak balita dan orang terinfeksi HIV yang telah terkontak dengan kasus menular
seharusnya dievaluasi untuk infeksi laten M. TB maupun TB aktif
STANDARD 17
•Semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus melaporkan kasus TB baru
maupun kasus pengobatan ulang serta hasil pengobatannya ke kantor dinas
kesehatan setempat sesuai dengan peraturan hukum dan kebijakan yang berlaku
•Pelaksanaan pelaporan seharusnya difasilitasi dan dikoordinasikan oleh Dinas
Kesehatan setempat, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.
AKU, AYAH DAN KEDOKTERAN...
Waktu itu, saat ku duduk di kursi tunggu ruang praktekku. Tak sengaja aku mengarahkan kepalaku kepada suatu pemandangan yang membuatku teringat kembali kepada masa laluku.
Di seberang jalan persis di depan tempat praktekku, seorang bapak-bapak sedang menggandeng anaknya yang berumur lebih kurang 5 tahun, itu menurut prediksiku. Anak yang masih menggunakan seragam Taman Kanak-kanak dengan menyandang sebuah botol minuman itu kelihatan seperti sedang berbincang-bincang dengan ayahnya. Ketika mereka berjalan semakin mendekat ke tempatku, akupun tak segaja menguping pembicaraan mereka.
“Jov, tadi di sekolah belajar apa?”, tanya ayah anak tersebut sambil mengusap kepala si anak dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Tadi Jovey belajar mengambar dan mewarnai, Yah”, jawab anak tersebut yang ternyata bernama Jovey.
“Gimana, kamu bisa nak?”, tanya ayah si anak lagi.
“Tentu dong Yah, aku kan anak pintar”, jawab Jovey semangat sambil menunjuk kepalanya yang sebelah kanan.
“Bagus nak, bagus. Kamu harus belajar yang rajin, agar besok bisa jadi orang besar. Biarlah ayah yang susah seperti ini, yang penting kamu bisa sekolah dan mencapai cita-cita mu. Ayah ingin kalau kamu besar nanti, kamu bisa jadi dokter. Supaya kalau ayah sakit, kamu bisa obati ayah dan kita tidak perlu keluar banyak uang lagi”, ujar ayah Jovey.
Aku tak yakin, apakah Jovey kecil mengerti apa maksud perkataan-perkataan ayahnya tersebut. Kulihat, ayah Jovey sangat berharap sekali Jovey dewasa akan menjadi seorang dokter, ya dokter sepertiku. Jovey kecil dan ayahnya sudah mulai menjauh dari tempatku, namun sayup-sayup masih kudengar Jovey menjawab dengan semagat dan keluguannya,”Baik, ayah. Besok kalau Jovey sudah besar, Jovey akan jadi dokter. Dan kalau ayah sakit, ayah tidak usah berobat mahal-mahal lagi, Jovey akan mengobati ayah sampai sembuh.” Kemudian suara Jovey kecil semakin menjauh dan tak terdengar lagi. Walaupun kedua anak dan bapak itu sudah berjalan jauh meninggalkan tempat praktekku, namun percakapan yang tak sengajaku dengar itu melemparkan aku kembali ke 25 tahun yang lalu. Aku dan ayahkupun pernah berbincang-bincang seperti itu ketika aku dibonceng dengan sepeda sepulang dari sekolah. Walaupun ayahku hanya seorang pedagang kecil, namun ayah selalu menyisihkan waktunya untuk menjemputku. Dia rela menutup toko kecilnya demi ingin menjemputku. Bahkan pedagang-pedangan yang lain pernah menyindir ayahku, “Man, kamu niat jualan ngak sih! Bentar tutup, bentar buka. Kalau ngak niat, tutup aja tuh toko”. Begitulah kira-kira perkataan pedangang-pedangang yang berjualan didekat toko ayahku. Ya, begitulah ayahku selalu mementingkan kepentingan anaknya dari pada kepentingan dirinya sendiri.
Kami sering sekali bercerita, bercerita seperti Jovey dan ayahnya tadi. Pada saat itu, ayah selalu membelikan apa yang aku minta, dia selalu bilang,”Randi, kamu harus belajar yang rajin, supaya jadi orang pintar dan bisa jadi dokter. Kalau Randi sudah jadi dokter, Randi bisa mengobati ayah kalau ayah sakit dan bisa beli apa yang Randi mau”. Itulah yang selalu ayahku katakan padaku. Sehingga ketika guru Bahasa Indonesia kelas 1 SD ku bertanya tentang cita-cita, aku dengan PDnya menjawab ingin menjadi dokter. Ketika itu, aku belum tau apa itu sebenarnya cita-cita dan apa sebenarnya pekerjaan dokter itu, yang aku tahu kalau aku jadi dokter, aku bisa beli semua yang aku mau, hanya itu. Cita-citaku jadi dokter tak bertahan lama, ketika aku duduk di kelas 4 SD, aku bercita-cita ingin jadi tentara, karena kebanyakkan temanku bercita-cita menjadi seorang tentara. Itupun tak bertahan lama. Saat aku duduk di kelas 2 SMP, aku bercita-cita ingin menjadi pilot. Sampai akhirnya ketika aku duduk di kelas 3 SMA, semuanya telah berubah, aku tak seperti Randi kecil lagi yang selalu patuh pada perkataan ayahku. Sekarang aku lebih suka mendengar kata teman-temanku dari pada perkataan orang tua ku. Seiring dengan waktu, usia ayahku pun mulai beranjak tua.
Otot-ototnya yang dulu kekar, sekarang sudah mulai kendor. Tulang-tulangnya yang dulu kuat dan selalu mengendongku, sekarang mulai lemah. Sekarang umurku 18 tahun, sudah 13 tahun percakapan-percakapan hangat ku dan ayah tentang cita-citaku menjadi seorang dokter berlalu. Aku sudah lama lupa akan percakapan itu, namun tak kusangka ayah masih sangat mengingat percakapan antara dia dan si Randi kecil.
Besok adalah hari pengumunan kelulusan ku di SMA. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun bukan ke Kedokteraan. Aku sudah berencana untuk melanjutkan pendidikanku ke Teknik Informatika ITB, karena aku sangat tergila-gila pada dunia komputer dan software. Malam harinya, ayah kembali bertanya kepadaku tentang keputusanku dan kembali berusaha untuk menyakinkanku agar mau melanjutkan pendidikanku ke Fakultas Kedokteraan UNAND.
“Ndi, percayalah pada ayah. Menjadi dokter lebih baik dari pada menjadi Sarjana Teknik. Mau jadi apa kamu nanti? Lebih baik jadi dokter, lebih jelas kerjanya dan kita ngak terikat. Kamu juga bisa buat tempat praktek sendiri.” Ayahku berusaha keras untuk meyakinkanku, itu terlihat jelas dari mimik mukanya yang menyimpan harapan besar agar aku menjadi seorang dokter.
“Tapi yah, Randi ngak suka Biologi dan lagi pula di Kedokteran itu bukunya tebal-tebal”, jawabku keras namun ku tetap berusaha untuk menjaga kesopanku. Aku tau betapa sebenarnya ayahku menginginkan aku menjadi seorang dokter. Aku tak tau alasan pasti ayah, namun salah satu alasannya yang kuingat dalam percakapan masa kecilku dengan ayah adalah agar aku bisa mengobati ayah kalau ayah sakit dan kita tidak perlu keluar uang banyak. Emangnya sakit apa sih ayah, palingan cuma flu atau demam biasa aja, kan bisa berobat ke puskesmas tanpa bayar, gumamku dalam hati.
Beberapa hari kemudian, ketika aku sudah dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan, ayah terus berusaha membuatku mengubah pikiran dan mau masuk ke Fakultas Kedokteran UNAND. Memang perbuatan ayahku tidak bisa dibilang memaksa, namun dari mimik dan ekspersinya, aku tahu sebenarnya ini adalah paksaan. Sekarang aku tahu satu lagi alasan ayah mengapa menyuruhku menjadi seorang dokter. Malam itu, ayah bercerita tentang proses kelahiranku. Saat melahirkanku, ibuku dalam keadaan yang sangat gawat, nyawanya dipertaruhkan. Aku memang lahir dengan cara normal, namun ada kesalahkan dengan jahitan pada vagina ibuku. Dokter yang menolong persalinan ku, lupa menjahit bagian dalam vagina ibuku, sehingga darah ibu tetap mengucur dengan deras sampai ibuku kehilangan banyak darah dan di kirim ke RS.Ahmad Muchtar Bukittinggi. Kami yang berdomisili di Payakumbuh jarang sekali berkunjung ke RS.Ahmad Muchtar Bukitting begitu juga ayahku. Hal ini membuat ayah tidak familiar dengan jalan masuk dan keluar Rumah Sakit. Saat itu malam hari, dokter berkata bahwa ibuku butuh 7 kantong darah, ayah sangat binggung dan panik kemana ia harus mencari 7 kantong darah malam-malam begini, sampai-sampai dia tidak tahu lagi dimana pintu masuk dan keluar Rumah Sakit tersebut. Orang yang dikenalpun tidak ada, tiba-tiba ada seorang mahasiswa kedokteran yang sedang KoAss menolong ayahku. Sejak saat itu, ayah ingin sekali kalau aku menjadi seorang dokter. Begitulah kira-kira cerita ayahku.
Cerita semalam, mulai sedikit bisa merubah pendirianku, walau tak 100% berubah. Akhirnya dengan sedikit terpaksa aku mengambil kedokteraan UNAND pada pilihan pertama di blangko SPMBku.
Sekarang hari Senin, hari dimana pengumuman kelulusan SPMB akan dimuat disemua surat kabar secara serentak. Sayang, aku tidak begitu antusias untuk melihatnya. Aku tak tahu kenapa. Namun, tiba-tiba pintu rumahku terbuka. Ada seseorang yang mengucapkan salam di luar sana, dan aku yakin itu adalah suara ayahku. Sambil sedikit berlari, ayah masuk dengan wajah sangat cerah. Kelihatan sekali dari mulutnya yang tersenyum lebar. Ditanganya kulihat ada sebuah koran, ya tepatnya koran yang berisi pengumuman SPMB.
“Ndi, kamu lulus nak. Kamu lulus di kedokteraan?”, ayah semangat sekali menyampaikannya padaku. Sebenarnya aku sedikit tidak bahagia, namun ku paksakan wajahku tersenyum.
“Iya, yah”, jawab ku singkat. Kulihat gurat kebahagian jelas tersirat di wajah ayahku, dan sepintas kulihat matanya berkaca-kaca. Baru kali ini kulihat ayah sebahagia ini.
“Kamu belajar saja yang rajin, soal biaya jangan kamu pikirkan biar ayah dan ibumu yang urus”, ayah kembali berkata sambil mengusap punggungku, walau ku tau sebenarnya sulit bagi kedua orang tuaku untuk menggumpulkan uang sebanyak itu.
Sudah 2 bulan aku belajar dan menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteraan Universitas Andalas ini. Namun, aku masih merasa terpaksa belajar di sini. Aku berusaha mencari kegiatan yang membuatku nyaman dan betah ke kampus. Pertama yang terpikir olehku adalah dengan mencari pacar, ya dengan pacaran kita punya motivasi untuk ke kampus. Aku sudah memiliki target seorang cewek yang lumayan cantik, kulitnya putih dan kelihatannya anak orang kaya. Jangan heran kalau aku bisa mendapatkan cewek yang cantik, karena akupun tak kalah tampannya, kulitku putih bersih dan aku adalah orang yang rapi.
Cara pertamaku lumayan berhasil, cara ini membuat aku rajin kekampus walaupun bukan untuk kuliah. Beberapa minggu berjalan dengan cewek baruku yang bernama Lia, aku sudah mulai bosan. Ternyata dia tidak sebaik rupanya dan terlalu manja, kemana-mana minta ditemanin, emang aku pengawalnya apa? Genap 3 bulan, aku putus dengan Lia. Kemudian aku kembali mencari kesibukan lain di kampus, salah satunya dengan masuk organisasi. Ingin coba-coba, aku masuk FSKI (Forum Studi Kedokteran Islam). Sebenarnya aku anti sekali dengan organisasi-organisasi seperti ini, tapi mencoba kan ngak ada salahnya. Iya kan?
Beberapa minggu aku bergabung dengan FSKI, benar-benar membuatku binggung. Namun ada satu alasan yang membuatku bertahan, yaitu Haniifah, cewek berjilbab rapi dengan pakaiannya yang longgar, tidak seperti Lia cewekku dulu, namun herannya Haniifah tetap manis dan cantik walaupun seluruh tubuhnya tertutup rapi. Aku tak tau, apa yang membuatnya begitu manis. Karena itu setiap acara FSKI pasti aku datang, paling tidak melihat wajah dan senyumnya saja sudah cukup. Dan ajaibnya sekarang aku sudah mulai kuliah dengan rajin, walau hanya demi Haniifah. Haniifah selalu duduk di depan ketika kuliah, itu memotivasiku untuk duduk di depan juga ketika kuliah. Aku yakin, Haniifah pasti tak tahu kalau aku memperhatikannya. Kenal denganku pun, aku tak yakin. Dia selalu menunduk ketika mata kami tak sengaja beradu. Matanya begitu indah.
Lama-kelamaan seiring aktifnya aku di FSKI, Haniffah mulai mengenalku. Walaupun percakapanku dengannya masih sangat kaku. Memang berbicara dengan dia tidak sama dengan berbicara dengan wanita-wanita yang pernah ku kenal. Karena begitu sering bertemu, melihat dan memandangnya, sudah muncul rasa cinta ku yang besar kepadanya. Dan pada hari ini, aku berniat untuk “menembaknya” dan memintanya menjadi pacarku. Namun aneh sekali, dia malah lari. Dan beberapa hari setelah itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Sikapnya padaku juga berubah. Ketika bertemu dia selalu menghindar dariku, aku merasa dia menjauhiku. Hal itu membuatku kembali tidak fokus pada kuliahku. Aku benar-benar merasa ini adalah cinta ku yang paling tulus, perasaan ini kurasakan sangat berbeda dengan perasaan-perasaan cinta yang pernah kurasakan. Namun kenapa dia malah menjauhiku? Membuat hatiku hancur berkeping-keping.
Sore ini, FSKI mengadakan acara Tasqif, aku hadir dalam acara tersebut dengan berharap aku bisa melihat Haniifah. Tasqif adalah semacam ceramah agama, yang diadakan dalam suatu ruangan. Namun sayang, apa yang kuharapkan tak kudapatkan. Aku hampir saja meninggalkan tempat dudukku ketika ku dengar MC menyebutkan tema Tasqif pada hari ini adalah tentang CINTA. Kursi yang sudah kugeser kebelakang, pelan-pelan kutarik lagi ketempat semula. Aku pun mulai mendengarkan dan menghayati acara tasqif pada hari ini.
Sepulang acara tasqif kemarin, aku sadar bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta kepada Allah dan pacaran itu tidak ada di dalam islam. Sekarang aku mengerti mengapa sikap Haniifah berubah padaku. Dan sekarang aku bertekat untuk belajar sungguh-sungguh agar bisa cepat menjadi dokter dan membahagiakan ayahku. Malam itu aku berniat untuk menelepon ayah dan meminta maaf atas segala sikap serta kesalahanku selama ini. Aku sadar, selama ini aku sangat jauh sekali dari agama, sampai-sampai aku tidak tau bagaimana islam sangat memuliakan orang tua.
Tanganku mulai menggapai HP, namun tiba-tiba HPku berdering. Ada tulisan “ayah” dilayarnya. Dengan senang ku pencet salah satu tombol di HPku dan meletakkan HP itu di telinga kananku.
“Assalamu’alaikum yah”, kataku mengucap salam. Namun suara diseberang sana bukan suara ayahku, itu adalah suara paman, adik ayahku. “Ada apa paman, kok nelepon dari HP ayah?”, tanyaku penasaran, namun langsung ku sambung dengan pernyataan lain. ”Waduh kebetulan sekali paman nelpon, aku sebenarnya juga mau nelpon”, sambungku lagi. Pamanku yang diseberang sana masih tanpa suara. “Oh ya paman,ayah mana? Ada yang mau ku omongin sama ayah, aku mau bilang aku dapat nilai A untuk blok ini, pasti ayah senang. Ayah masih di toko ya paman?”, tanya ku lagi, karena paman masih saja belum menjawab pertanyaan-pertanyaanku.
“Ndi, ayahmu udah pulang”, kata paman datar.
“Ya udah, baguslah Paman. Tolong berikan HPnya ke ayah sebentar Paman, pasti ayah senang mendengar berita dari Randi”, kembali ku ulang permintaanku kepada paman.
“Ndi, ayahmu …”, tiba-tiba perkataan paman terhenti, seperti ada sesuatu yang mencekik lehernya.
“Ada apa paman?”, tanyaku tambah tak mengerti.
“Ayahmu sudah tiada Ndi. Kamu yang tabah ya….”, kata paman mulai menenangkanku.
Perkataan paman, seperti petir dan guruh yang menggelegar di telingaku. Aku benar-benar terkejut dan shok berat. Tanganku gemetar, leherku terasa terjerat dan mulutku kaku, namun kupaksakan untuk bericara. Dan tak sadar, air mata sudah mengenang di pipiku.
“Ayah kenapa paman, sakit apa? Setahu Randi ayah sehat-sehat saja?”, tanyaku tak percaya.
“Memang kelihatannya ayahmu sehat-sehat saja, tapi sebenarnya ayahmu punya penyakit jantung. Karena itulah dia selalu memintamu untuk menjadi seorang dokter”.
Mendengar perkataan paman tadi, aku merasa sangat menyesal, mengapa dulu aku susah sekali untuk di suruh masuk kedokteraan, mengapa aku dulu malas-malasan dalam belajar. Sekarang ketika aku mau minta maaf dan ketika aku ingin memberi tahu nilai ku yang bagus, ayah telah pergi untuk selamanya. Memang, penyesalan selalu datang belakangan. Apa mau dikata semuanya telah terjadi.
2,5 tahun kemudian aku bergelar Sarjana Kedokteran. 1 tahun setelah itu aku sudah menjadi seorang dokter. Dan sekarang aku sudah punya satu orang anak dan seorang istri yang solehah serta cantik, dia adalah Haniifah. Sekarang aku tau, sebenarnya ayah memintaku menjadi seorang dokter adalah untuk kebaikkanku dan agar aku bisa menolong orang-orang yang membutuhkan pertolonganku supaya tidak bernasib sama seperti ayah. Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan kumpulkanlah kami kembali di surgamu.
Lamunanku buyar, ketika seorang bapak-bapak tua yang dipapah oleh anaknya masuk kepekarangan rumahku dan menuju tempat praktekku. Aku berniat dalam hati, akan menjalankan profesi dokter ini dengan ikhlas karena Allah dan mudah-mudahan aku mendapatkan Kebahagian Dunia dan Akhirat begitu juga dengan ayahku, amin.
Di seberang jalan persis di depan tempat praktekku, seorang bapak-bapak sedang menggandeng anaknya yang berumur lebih kurang 5 tahun, itu menurut prediksiku. Anak yang masih menggunakan seragam Taman Kanak-kanak dengan menyandang sebuah botol minuman itu kelihatan seperti sedang berbincang-bincang dengan ayahnya. Ketika mereka berjalan semakin mendekat ke tempatku, akupun tak segaja menguping pembicaraan mereka.
“Jov, tadi di sekolah belajar apa?”, tanya ayah anak tersebut sambil mengusap kepala si anak dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Tadi Jovey belajar mengambar dan mewarnai, Yah”, jawab anak tersebut yang ternyata bernama Jovey.
“Gimana, kamu bisa nak?”, tanya ayah si anak lagi.
“Tentu dong Yah, aku kan anak pintar”, jawab Jovey semangat sambil menunjuk kepalanya yang sebelah kanan.
“Bagus nak, bagus. Kamu harus belajar yang rajin, agar besok bisa jadi orang besar. Biarlah ayah yang susah seperti ini, yang penting kamu bisa sekolah dan mencapai cita-cita mu. Ayah ingin kalau kamu besar nanti, kamu bisa jadi dokter. Supaya kalau ayah sakit, kamu bisa obati ayah dan kita tidak perlu keluar banyak uang lagi”, ujar ayah Jovey.
Aku tak yakin, apakah Jovey kecil mengerti apa maksud perkataan-perkataan ayahnya tersebut. Kulihat, ayah Jovey sangat berharap sekali Jovey dewasa akan menjadi seorang dokter, ya dokter sepertiku. Jovey kecil dan ayahnya sudah mulai menjauh dari tempatku, namun sayup-sayup masih kudengar Jovey menjawab dengan semagat dan keluguannya,”Baik, ayah. Besok kalau Jovey sudah besar, Jovey akan jadi dokter. Dan kalau ayah sakit, ayah tidak usah berobat mahal-mahal lagi, Jovey akan mengobati ayah sampai sembuh.” Kemudian suara Jovey kecil semakin menjauh dan tak terdengar lagi. Walaupun kedua anak dan bapak itu sudah berjalan jauh meninggalkan tempat praktekku, namun percakapan yang tak sengajaku dengar itu melemparkan aku kembali ke 25 tahun yang lalu. Aku dan ayahkupun pernah berbincang-bincang seperti itu ketika aku dibonceng dengan sepeda sepulang dari sekolah. Walaupun ayahku hanya seorang pedagang kecil, namun ayah selalu menyisihkan waktunya untuk menjemputku. Dia rela menutup toko kecilnya demi ingin menjemputku. Bahkan pedagang-pedangan yang lain pernah menyindir ayahku, “Man, kamu niat jualan ngak sih! Bentar tutup, bentar buka. Kalau ngak niat, tutup aja tuh toko”. Begitulah kira-kira perkataan pedangang-pedangang yang berjualan didekat toko ayahku. Ya, begitulah ayahku selalu mementingkan kepentingan anaknya dari pada kepentingan dirinya sendiri.
Kami sering sekali bercerita, bercerita seperti Jovey dan ayahnya tadi. Pada saat itu, ayah selalu membelikan apa yang aku minta, dia selalu bilang,”Randi, kamu harus belajar yang rajin, supaya jadi orang pintar dan bisa jadi dokter. Kalau Randi sudah jadi dokter, Randi bisa mengobati ayah kalau ayah sakit dan bisa beli apa yang Randi mau”. Itulah yang selalu ayahku katakan padaku. Sehingga ketika guru Bahasa Indonesia kelas 1 SD ku bertanya tentang cita-cita, aku dengan PDnya menjawab ingin menjadi dokter. Ketika itu, aku belum tau apa itu sebenarnya cita-cita dan apa sebenarnya pekerjaan dokter itu, yang aku tahu kalau aku jadi dokter, aku bisa beli semua yang aku mau, hanya itu. Cita-citaku jadi dokter tak bertahan lama, ketika aku duduk di kelas 4 SD, aku bercita-cita ingin jadi tentara, karena kebanyakkan temanku bercita-cita menjadi seorang tentara. Itupun tak bertahan lama. Saat aku duduk di kelas 2 SMP, aku bercita-cita ingin menjadi pilot. Sampai akhirnya ketika aku duduk di kelas 3 SMA, semuanya telah berubah, aku tak seperti Randi kecil lagi yang selalu patuh pada perkataan ayahku. Sekarang aku lebih suka mendengar kata teman-temanku dari pada perkataan orang tua ku. Seiring dengan waktu, usia ayahku pun mulai beranjak tua.
Otot-ototnya yang dulu kekar, sekarang sudah mulai kendor. Tulang-tulangnya yang dulu kuat dan selalu mengendongku, sekarang mulai lemah. Sekarang umurku 18 tahun, sudah 13 tahun percakapan-percakapan hangat ku dan ayah tentang cita-citaku menjadi seorang dokter berlalu. Aku sudah lama lupa akan percakapan itu, namun tak kusangka ayah masih sangat mengingat percakapan antara dia dan si Randi kecil.
Besok adalah hari pengumunan kelulusan ku di SMA. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun bukan ke Kedokteraan. Aku sudah berencana untuk melanjutkan pendidikanku ke Teknik Informatika ITB, karena aku sangat tergila-gila pada dunia komputer dan software. Malam harinya, ayah kembali bertanya kepadaku tentang keputusanku dan kembali berusaha untuk menyakinkanku agar mau melanjutkan pendidikanku ke Fakultas Kedokteraan UNAND.
“Ndi, percayalah pada ayah. Menjadi dokter lebih baik dari pada menjadi Sarjana Teknik. Mau jadi apa kamu nanti? Lebih baik jadi dokter, lebih jelas kerjanya dan kita ngak terikat. Kamu juga bisa buat tempat praktek sendiri.” Ayahku berusaha keras untuk meyakinkanku, itu terlihat jelas dari mimik mukanya yang menyimpan harapan besar agar aku menjadi seorang dokter.
“Tapi yah, Randi ngak suka Biologi dan lagi pula di Kedokteran itu bukunya tebal-tebal”, jawabku keras namun ku tetap berusaha untuk menjaga kesopanku. Aku tau betapa sebenarnya ayahku menginginkan aku menjadi seorang dokter. Aku tak tau alasan pasti ayah, namun salah satu alasannya yang kuingat dalam percakapan masa kecilku dengan ayah adalah agar aku bisa mengobati ayah kalau ayah sakit dan kita tidak perlu keluar uang banyak. Emangnya sakit apa sih ayah, palingan cuma flu atau demam biasa aja, kan bisa berobat ke puskesmas tanpa bayar, gumamku dalam hati.
Beberapa hari kemudian, ketika aku sudah dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan, ayah terus berusaha membuatku mengubah pikiran dan mau masuk ke Fakultas Kedokteran UNAND. Memang perbuatan ayahku tidak bisa dibilang memaksa, namun dari mimik dan ekspersinya, aku tahu sebenarnya ini adalah paksaan. Sekarang aku tahu satu lagi alasan ayah mengapa menyuruhku menjadi seorang dokter. Malam itu, ayah bercerita tentang proses kelahiranku. Saat melahirkanku, ibuku dalam keadaan yang sangat gawat, nyawanya dipertaruhkan. Aku memang lahir dengan cara normal, namun ada kesalahkan dengan jahitan pada vagina ibuku. Dokter yang menolong persalinan ku, lupa menjahit bagian dalam vagina ibuku, sehingga darah ibu tetap mengucur dengan deras sampai ibuku kehilangan banyak darah dan di kirim ke RS.Ahmad Muchtar Bukittinggi. Kami yang berdomisili di Payakumbuh jarang sekali berkunjung ke RS.Ahmad Muchtar Bukitting begitu juga ayahku. Hal ini membuat ayah tidak familiar dengan jalan masuk dan keluar Rumah Sakit. Saat itu malam hari, dokter berkata bahwa ibuku butuh 7 kantong darah, ayah sangat binggung dan panik kemana ia harus mencari 7 kantong darah malam-malam begini, sampai-sampai dia tidak tahu lagi dimana pintu masuk dan keluar Rumah Sakit tersebut. Orang yang dikenalpun tidak ada, tiba-tiba ada seorang mahasiswa kedokteran yang sedang KoAss menolong ayahku. Sejak saat itu, ayah ingin sekali kalau aku menjadi seorang dokter. Begitulah kira-kira cerita ayahku.
Cerita semalam, mulai sedikit bisa merubah pendirianku, walau tak 100% berubah. Akhirnya dengan sedikit terpaksa aku mengambil kedokteraan UNAND pada pilihan pertama di blangko SPMBku.
Sekarang hari Senin, hari dimana pengumuman kelulusan SPMB akan dimuat disemua surat kabar secara serentak. Sayang, aku tidak begitu antusias untuk melihatnya. Aku tak tahu kenapa. Namun, tiba-tiba pintu rumahku terbuka. Ada seseorang yang mengucapkan salam di luar sana, dan aku yakin itu adalah suara ayahku. Sambil sedikit berlari, ayah masuk dengan wajah sangat cerah. Kelihatan sekali dari mulutnya yang tersenyum lebar. Ditanganya kulihat ada sebuah koran, ya tepatnya koran yang berisi pengumuman SPMB.
“Ndi, kamu lulus nak. Kamu lulus di kedokteraan?”, ayah semangat sekali menyampaikannya padaku. Sebenarnya aku sedikit tidak bahagia, namun ku paksakan wajahku tersenyum.
“Iya, yah”, jawab ku singkat. Kulihat gurat kebahagian jelas tersirat di wajah ayahku, dan sepintas kulihat matanya berkaca-kaca. Baru kali ini kulihat ayah sebahagia ini.
“Kamu belajar saja yang rajin, soal biaya jangan kamu pikirkan biar ayah dan ibumu yang urus”, ayah kembali berkata sambil mengusap punggungku, walau ku tau sebenarnya sulit bagi kedua orang tuaku untuk menggumpulkan uang sebanyak itu.
Sudah 2 bulan aku belajar dan menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteraan Universitas Andalas ini. Namun, aku masih merasa terpaksa belajar di sini. Aku berusaha mencari kegiatan yang membuatku nyaman dan betah ke kampus. Pertama yang terpikir olehku adalah dengan mencari pacar, ya dengan pacaran kita punya motivasi untuk ke kampus. Aku sudah memiliki target seorang cewek yang lumayan cantik, kulitnya putih dan kelihatannya anak orang kaya. Jangan heran kalau aku bisa mendapatkan cewek yang cantik, karena akupun tak kalah tampannya, kulitku putih bersih dan aku adalah orang yang rapi.
Cara pertamaku lumayan berhasil, cara ini membuat aku rajin kekampus walaupun bukan untuk kuliah. Beberapa minggu berjalan dengan cewek baruku yang bernama Lia, aku sudah mulai bosan. Ternyata dia tidak sebaik rupanya dan terlalu manja, kemana-mana minta ditemanin, emang aku pengawalnya apa? Genap 3 bulan, aku putus dengan Lia. Kemudian aku kembali mencari kesibukan lain di kampus, salah satunya dengan masuk organisasi. Ingin coba-coba, aku masuk FSKI (Forum Studi Kedokteran Islam). Sebenarnya aku anti sekali dengan organisasi-organisasi seperti ini, tapi mencoba kan ngak ada salahnya. Iya kan?
Beberapa minggu aku bergabung dengan FSKI, benar-benar membuatku binggung. Namun ada satu alasan yang membuatku bertahan, yaitu Haniifah, cewek berjilbab rapi dengan pakaiannya yang longgar, tidak seperti Lia cewekku dulu, namun herannya Haniifah tetap manis dan cantik walaupun seluruh tubuhnya tertutup rapi. Aku tak tau, apa yang membuatnya begitu manis. Karena itu setiap acara FSKI pasti aku datang, paling tidak melihat wajah dan senyumnya saja sudah cukup. Dan ajaibnya sekarang aku sudah mulai kuliah dengan rajin, walau hanya demi Haniifah. Haniifah selalu duduk di depan ketika kuliah, itu memotivasiku untuk duduk di depan juga ketika kuliah. Aku yakin, Haniifah pasti tak tahu kalau aku memperhatikannya. Kenal denganku pun, aku tak yakin. Dia selalu menunduk ketika mata kami tak sengaja beradu. Matanya begitu indah.
Lama-kelamaan seiring aktifnya aku di FSKI, Haniffah mulai mengenalku. Walaupun percakapanku dengannya masih sangat kaku. Memang berbicara dengan dia tidak sama dengan berbicara dengan wanita-wanita yang pernah ku kenal. Karena begitu sering bertemu, melihat dan memandangnya, sudah muncul rasa cinta ku yang besar kepadanya. Dan pada hari ini, aku berniat untuk “menembaknya” dan memintanya menjadi pacarku. Namun aneh sekali, dia malah lari. Dan beberapa hari setelah itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Sikapnya padaku juga berubah. Ketika bertemu dia selalu menghindar dariku, aku merasa dia menjauhiku. Hal itu membuatku kembali tidak fokus pada kuliahku. Aku benar-benar merasa ini adalah cinta ku yang paling tulus, perasaan ini kurasakan sangat berbeda dengan perasaan-perasaan cinta yang pernah kurasakan. Namun kenapa dia malah menjauhiku? Membuat hatiku hancur berkeping-keping.
Sore ini, FSKI mengadakan acara Tasqif, aku hadir dalam acara tersebut dengan berharap aku bisa melihat Haniifah. Tasqif adalah semacam ceramah agama, yang diadakan dalam suatu ruangan. Namun sayang, apa yang kuharapkan tak kudapatkan. Aku hampir saja meninggalkan tempat dudukku ketika ku dengar MC menyebutkan tema Tasqif pada hari ini adalah tentang CINTA. Kursi yang sudah kugeser kebelakang, pelan-pelan kutarik lagi ketempat semula. Aku pun mulai mendengarkan dan menghayati acara tasqif pada hari ini.
Sepulang acara tasqif kemarin, aku sadar bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta kepada Allah dan pacaran itu tidak ada di dalam islam. Sekarang aku mengerti mengapa sikap Haniifah berubah padaku. Dan sekarang aku bertekat untuk belajar sungguh-sungguh agar bisa cepat menjadi dokter dan membahagiakan ayahku. Malam itu aku berniat untuk menelepon ayah dan meminta maaf atas segala sikap serta kesalahanku selama ini. Aku sadar, selama ini aku sangat jauh sekali dari agama, sampai-sampai aku tidak tau bagaimana islam sangat memuliakan orang tua.
Tanganku mulai menggapai HP, namun tiba-tiba HPku berdering. Ada tulisan “ayah” dilayarnya. Dengan senang ku pencet salah satu tombol di HPku dan meletakkan HP itu di telinga kananku.
“Assalamu’alaikum yah”, kataku mengucap salam. Namun suara diseberang sana bukan suara ayahku, itu adalah suara paman, adik ayahku. “Ada apa paman, kok nelepon dari HP ayah?”, tanyaku penasaran, namun langsung ku sambung dengan pernyataan lain. ”Waduh kebetulan sekali paman nelpon, aku sebenarnya juga mau nelpon”, sambungku lagi. Pamanku yang diseberang sana masih tanpa suara. “Oh ya paman,ayah mana? Ada yang mau ku omongin sama ayah, aku mau bilang aku dapat nilai A untuk blok ini, pasti ayah senang. Ayah masih di toko ya paman?”, tanya ku lagi, karena paman masih saja belum menjawab pertanyaan-pertanyaanku.
“Ndi, ayahmu udah pulang”, kata paman datar.
“Ya udah, baguslah Paman. Tolong berikan HPnya ke ayah sebentar Paman, pasti ayah senang mendengar berita dari Randi”, kembali ku ulang permintaanku kepada paman.
“Ndi, ayahmu …”, tiba-tiba perkataan paman terhenti, seperti ada sesuatu yang mencekik lehernya.
“Ada apa paman?”, tanyaku tambah tak mengerti.
“Ayahmu sudah tiada Ndi. Kamu yang tabah ya….”, kata paman mulai menenangkanku.
Perkataan paman, seperti petir dan guruh yang menggelegar di telingaku. Aku benar-benar terkejut dan shok berat. Tanganku gemetar, leherku terasa terjerat dan mulutku kaku, namun kupaksakan untuk bericara. Dan tak sadar, air mata sudah mengenang di pipiku.
“Ayah kenapa paman, sakit apa? Setahu Randi ayah sehat-sehat saja?”, tanyaku tak percaya.
“Memang kelihatannya ayahmu sehat-sehat saja, tapi sebenarnya ayahmu punya penyakit jantung. Karena itulah dia selalu memintamu untuk menjadi seorang dokter”.
Mendengar perkataan paman tadi, aku merasa sangat menyesal, mengapa dulu aku susah sekali untuk di suruh masuk kedokteraan, mengapa aku dulu malas-malasan dalam belajar. Sekarang ketika aku mau minta maaf dan ketika aku ingin memberi tahu nilai ku yang bagus, ayah telah pergi untuk selamanya. Memang, penyesalan selalu datang belakangan. Apa mau dikata semuanya telah terjadi.
2,5 tahun kemudian aku bergelar Sarjana Kedokteran. 1 tahun setelah itu aku sudah menjadi seorang dokter. Dan sekarang aku sudah punya satu orang anak dan seorang istri yang solehah serta cantik, dia adalah Haniifah. Sekarang aku tau, sebenarnya ayah memintaku menjadi seorang dokter adalah untuk kebaikkanku dan agar aku bisa menolong orang-orang yang membutuhkan pertolonganku supaya tidak bernasib sama seperti ayah. Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan kumpulkanlah kami kembali di surgamu.
Lamunanku buyar, ketika seorang bapak-bapak tua yang dipapah oleh anaknya masuk kepekarangan rumahku dan menuju tempat praktekku. Aku berniat dalam hati, akan menjalankan profesi dokter ini dengan ikhlas karena Allah dan mudah-mudahan aku mendapatkan Kebahagian Dunia dan Akhirat begitu juga dengan ayahku, amin.
“Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” (QS. Al Maidah [5] : 32).
Minggu, 21 Maret 2010
BERKENALAN DENGAN BURUNG KUAU BESAR
Burung Kuau Besar. Mungkin kamu sudah pernah mendengar nama itu, atau bisa jadi kamu sudah sering mendengarnya, tapi ada juga sebagian dari kamu yang baru pertama kali mendengar nama tersebut. Walaupun demikian, tahukah kamu sebenarnya apa dan bagaimana burung Kuau Besar itu? Dari mana asalnya? Bagaimana karakteristiknya? Atau dimana habitatnya? Baiklah, pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan beberapa informasi yang dapat membuatmu lebih familiar lagi dengan “Burung Kuau Besar”.
Pernahkah kamu berkenalan dengan seseorang? Saya yakin jawabannya pasti pernah. Nah, sekarang saya akan membawamu ke dalam dunia imajinasi saya. Dan bersiap-siaplah menjadi tokoh utamanya, karena sebentar lagi saya akan mengajakmu berkenalan dengan “Burung Kuau Besar”. Seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Karena itu, bagaimana bisa kita dapat mencintai dan menjaga kelestarian burung Kuau tersebut, jika kita sendiri tidak pernah mengenal dan memperhatikannya.
Tiba-tiba saja di depanmu sekarang telah berdiri beberapa ekor burung Kuau Besar yang merupakan fauna maskot Provinsi Sumatera Barat. Ia sedang mengepak-ngepakkan sayapnya untuk melihatkan keindahan bulunya kepadamu. Tahukah kamu, burung Kuau Besar merupakan bagian dari bangsa Galliformes dan berasal dari suku Phasianidae. Dalam bahasa latin, burung Kuau Besar disebut dengan Argusianus argus L.
Setelah beberapa lama mengamati burung tersebut, ternyata kamu sudah dapat mengetahui beberapa informasi dan berkenalan dengan burung Kuau Besar. Kamu perhatikan, ternyata kepala burung Kuau tidak memiliki bulu, itu merupakan salah satu keunikan dan daya tarik dari burung Kuau Besar tersebut. Kulit bagian kepala dan lehernya berwarna kebiruan. Jambul yang dimiliki burung Kuau, menambah pesona yang ada pada dirinya. Jambul tersebut terdiri dari bulu-bulu yang sangat lembut.
Namun tiba-tiba burung itu mematuk suatu benda, sehingga pandanganmu seketika mengarah kepada paruh burung tersebut. Paruhnya sangat kuat dan berwarna kuning pucat. Iris matanya berwarna merah. Bulu tubuh burung Kuau berwarna coklat dengan corak bulat-bulat kecil yang berwarna kuning dan hitam, namun corak tersebut hanya terdapat di bagian punggung, sayap dan ekornya saja. Sedangkan, bulu bagian bawah berwarna coklat sawo. Bulu-bulu penutup pada burung Kuau berukuran panjang, terutama pada burung Kuau jantan.
Burung Kuau kembali mengepakkan sayapnya, mungkin dia ingin memberikan suatu informasi kepadamu tentang sayapnya. Setelah beberapa lama berpikir dan mengamati sayap tersebut, ternyata kamu baru sadar bahwa sayap burung Kuau berbentuk bulat dengan bulu-bulu yang panjang dan sangat menarik dilihat. Burung Kuau Besar ini tidak dapat terbang jauh. Ia mengandalkan gaya lepas landasnya untuk mencapai kekuatan maju yang diperlukan sebagai awal penerbangan. Gaya lepas landas burung Kuau sangat unik, yaitu burung Kuau terbang hampir vertikal dengan kecepatan tingginya. Sehingga dapat mengimbangi cara terbangnya. Bulu ekornya berjumlah 12 helai. Uniknya, pada Kuau jantan sepasang bulu ekor yang tumbuh di tengah berukuran sangat panjang. Burung Kuau juga memiliki 2 kaki, tidak beda dengan burung-burung lainnya. Sepasang kakinya itu berwarna merah dan berukuran cukup panjang serta kuat. Tapi, ia tidak memiliki taji.
Secara umum, sekarang kamu sudah mengenal karakteristik fisik dari burung Kuau Besar. Tapi masih banyak yang harus kamu ketahui tentang burung ini. Kamu tahu? Ternyata, berat burung Kuau jantan dapat mencapai 11,5 kg. Jika dibanding dengan berat burung yang lain, berat burung Kuau dapat digolongkan cukup besar. Burung Kuau berhabitat di hutan primer serta dataran rendah hingga 1000 meter di atas permukaan laut. Burung Kuau banyak tersebar di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Barat. Namun sebagian kecil terdapat juga di Pulau Kalimantan.
Burung Kuau termasuk kepada hewan yang ovivar, yaitu hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur. Ia hanya dapat menghasilkan 2-3 butir telur yang menetas setelah 25 hari. Saat berlangsung perkawinan, Kuau jantan akan menari mondar-mandir dengan ekor menjurai menyapu tanah sambil mematuk-matuk ranting atau biji-bijian. Jika Kuau betina tertarik, maka Kuau jantan akan menegakkan bulu tubuh, sayap dan ekornya sehingga membentuk suatu bayangan yang bulat. Kemudian Kuau jantan akan menghadap secara vertikal ke arah betina, lalu perkawinan terjadi.
Burung Kuau agak berbeda dengan burung-burung lain dalam hal membuat sarang atau tempat tinggal. Karena burung Kuau membuat sarang di atas tanah, bukan di atas pohon. Ia membuatnya dari rumput-rumputan atau daun-daunan. Anak burung Kuau yang telah mencapai umur ± 1 tahun dapat dilepas untuk mencari makan sendiri. Makanannya tidak begitu sulit didapat,contohnya buah dan biji-bijian yang jatuh, semut, dan siput. Burung Kuau memiliki kebiasaan bertengger di dahan-dahan pohon yang tidak begitu tinggi mungkin itu adalah salah satu caranya beradapatasi dengan dunia luar.
Tiba-tiba lamunanmu buyar dan di sekelilingmu tidak terdapat lagi seekor pun burung Kuau Besar. Kamu berusaha mencari-carinya, namun yang kamu temui malah bangunan-bangunan pencakar langit. Terbersik sebuah anggapan di pikiranmu, dan saya sudah bisa membacanya. Anggapanmu benar, memang burung Kuau sekarang sudah mencapai populasi yang hampir punah atau langka. Oleh sebab itu, karena kamu sudah mengenal dan mencintai burung Kuau tersebut, mulai dari “sekarang” dan mulai dari dirimu “sendiri”, cobalah kamu berusaha untuk menjaga kelestarian Kuau Besar, salah satunya dengan menjaga keasrian habitatnya.
Pemerintah tidak hanya berpangku tangan, ia telah berusaha untuk menjaga kelestarian maskot Provinsi Sumatera Barat ini dengan upaya konversi secara ex-situ, yaitu mengembangkan burung Kuau Besar di luar habitat aslinya, contohnya di kebun binatang. Tidak hanya berhenti sampai disitu, pemerintah juga mengeluarkan keputusan mengenai perlindungan terhadap burung Kuau ini, yaitu SK Mentan No.421/Kpts/Um/8/1970,UU No.5 Tahun 1990.
Sekarang kamu sedang tertidur di kamarmu sendiri. Mungkin kamu letih setelah melakukan perjalanan panjang sekaligus menyenangkan bersama saya dan burung "Kuau Besar”. Selamat bermimpi indah tentang burung Kuau Besar. Mudah-mudahan di dalam mimpimu kamu dapat menemukan cara bagaimana kelestarian hidup burung Kuau dapat terjaga dan ia dapat hidup harmonis bersama manusia.
Begitulah sedikit informasi tentang Fauna Maskot Provinsi Sumatera Barat yang saya kemas dalam bentuk sederhana. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan kita semua, khususnya bagi saya sendiri. Karena itu “KENALI, CINTAI, DAN LESTARIKANLAH FLORA DAN FAUNA, DEMI KELANGUNGAN HIDUP KITA”.
Pernahkah kamu berkenalan dengan seseorang? Saya yakin jawabannya pasti pernah. Nah, sekarang saya akan membawamu ke dalam dunia imajinasi saya. Dan bersiap-siaplah menjadi tokoh utamanya, karena sebentar lagi saya akan mengajakmu berkenalan dengan “Burung Kuau Besar”. Seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Karena itu, bagaimana bisa kita dapat mencintai dan menjaga kelestarian burung Kuau tersebut, jika kita sendiri tidak pernah mengenal dan memperhatikannya.
Tiba-tiba saja di depanmu sekarang telah berdiri beberapa ekor burung Kuau Besar yang merupakan fauna maskot Provinsi Sumatera Barat. Ia sedang mengepak-ngepakkan sayapnya untuk melihatkan keindahan bulunya kepadamu. Tahukah kamu, burung Kuau Besar merupakan bagian dari bangsa Galliformes dan berasal dari suku Phasianidae. Dalam bahasa latin, burung Kuau Besar disebut dengan Argusianus argus L.
Setelah beberapa lama mengamati burung tersebut, ternyata kamu sudah dapat mengetahui beberapa informasi dan berkenalan dengan burung Kuau Besar. Kamu perhatikan, ternyata kepala burung Kuau tidak memiliki bulu, itu merupakan salah satu keunikan dan daya tarik dari burung Kuau Besar tersebut. Kulit bagian kepala dan lehernya berwarna kebiruan. Jambul yang dimiliki burung Kuau, menambah pesona yang ada pada dirinya. Jambul tersebut terdiri dari bulu-bulu yang sangat lembut.
Namun tiba-tiba burung itu mematuk suatu benda, sehingga pandanganmu seketika mengarah kepada paruh burung tersebut. Paruhnya sangat kuat dan berwarna kuning pucat. Iris matanya berwarna merah. Bulu tubuh burung Kuau berwarna coklat dengan corak bulat-bulat kecil yang berwarna kuning dan hitam, namun corak tersebut hanya terdapat di bagian punggung, sayap dan ekornya saja. Sedangkan, bulu bagian bawah berwarna coklat sawo. Bulu-bulu penutup pada burung Kuau berukuran panjang, terutama pada burung Kuau jantan.
Burung Kuau kembali mengepakkan sayapnya, mungkin dia ingin memberikan suatu informasi kepadamu tentang sayapnya. Setelah beberapa lama berpikir dan mengamati sayap tersebut, ternyata kamu baru sadar bahwa sayap burung Kuau berbentuk bulat dengan bulu-bulu yang panjang dan sangat menarik dilihat. Burung Kuau Besar ini tidak dapat terbang jauh. Ia mengandalkan gaya lepas landasnya untuk mencapai kekuatan maju yang diperlukan sebagai awal penerbangan. Gaya lepas landas burung Kuau sangat unik, yaitu burung Kuau terbang hampir vertikal dengan kecepatan tingginya. Sehingga dapat mengimbangi cara terbangnya. Bulu ekornya berjumlah 12 helai. Uniknya, pada Kuau jantan sepasang bulu ekor yang tumbuh di tengah berukuran sangat panjang. Burung Kuau juga memiliki 2 kaki, tidak beda dengan burung-burung lainnya. Sepasang kakinya itu berwarna merah dan berukuran cukup panjang serta kuat. Tapi, ia tidak memiliki taji.
Secara umum, sekarang kamu sudah mengenal karakteristik fisik dari burung Kuau Besar. Tapi masih banyak yang harus kamu ketahui tentang burung ini. Kamu tahu? Ternyata, berat burung Kuau jantan dapat mencapai 11,5 kg. Jika dibanding dengan berat burung yang lain, berat burung Kuau dapat digolongkan cukup besar. Burung Kuau berhabitat di hutan primer serta dataran rendah hingga 1000 meter di atas permukaan laut. Burung Kuau banyak tersebar di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Barat. Namun sebagian kecil terdapat juga di Pulau Kalimantan.
Burung Kuau termasuk kepada hewan yang ovivar, yaitu hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur. Ia hanya dapat menghasilkan 2-3 butir telur yang menetas setelah 25 hari. Saat berlangsung perkawinan, Kuau jantan akan menari mondar-mandir dengan ekor menjurai menyapu tanah sambil mematuk-matuk ranting atau biji-bijian. Jika Kuau betina tertarik, maka Kuau jantan akan menegakkan bulu tubuh, sayap dan ekornya sehingga membentuk suatu bayangan yang bulat. Kemudian Kuau jantan akan menghadap secara vertikal ke arah betina, lalu perkawinan terjadi.
Burung Kuau agak berbeda dengan burung-burung lain dalam hal membuat sarang atau tempat tinggal. Karena burung Kuau membuat sarang di atas tanah, bukan di atas pohon. Ia membuatnya dari rumput-rumputan atau daun-daunan. Anak burung Kuau yang telah mencapai umur ± 1 tahun dapat dilepas untuk mencari makan sendiri. Makanannya tidak begitu sulit didapat,contohnya buah dan biji-bijian yang jatuh, semut, dan siput. Burung Kuau memiliki kebiasaan bertengger di dahan-dahan pohon yang tidak begitu tinggi mungkin itu adalah salah satu caranya beradapatasi dengan dunia luar.
Tiba-tiba lamunanmu buyar dan di sekelilingmu tidak terdapat lagi seekor pun burung Kuau Besar. Kamu berusaha mencari-carinya, namun yang kamu temui malah bangunan-bangunan pencakar langit. Terbersik sebuah anggapan di pikiranmu, dan saya sudah bisa membacanya. Anggapanmu benar, memang burung Kuau sekarang sudah mencapai populasi yang hampir punah atau langka. Oleh sebab itu, karena kamu sudah mengenal dan mencintai burung Kuau tersebut, mulai dari “sekarang” dan mulai dari dirimu “sendiri”, cobalah kamu berusaha untuk menjaga kelestarian Kuau Besar, salah satunya dengan menjaga keasrian habitatnya.
Pemerintah tidak hanya berpangku tangan, ia telah berusaha untuk menjaga kelestarian maskot Provinsi Sumatera Barat ini dengan upaya konversi secara ex-situ, yaitu mengembangkan burung Kuau Besar di luar habitat aslinya, contohnya di kebun binatang. Tidak hanya berhenti sampai disitu, pemerintah juga mengeluarkan keputusan mengenai perlindungan terhadap burung Kuau ini, yaitu SK Mentan No.421/Kpts/Um/8/1970,UU No.5 Tahun 1990.
Sekarang kamu sedang tertidur di kamarmu sendiri. Mungkin kamu letih setelah melakukan perjalanan panjang sekaligus menyenangkan bersama saya dan burung "Kuau Besar”. Selamat bermimpi indah tentang burung Kuau Besar. Mudah-mudahan di dalam mimpimu kamu dapat menemukan cara bagaimana kelestarian hidup burung Kuau dapat terjaga dan ia dapat hidup harmonis bersama manusia.
Begitulah sedikit informasi tentang Fauna Maskot Provinsi Sumatera Barat yang saya kemas dalam bentuk sederhana. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan kita semua, khususnya bagi saya sendiri. Karena itu “KENALI, CINTAI, DAN LESTARIKANLAH FLORA DAN FAUNA, DEMI KELANGUNGAN HIDUP KITA”.
RACUN ITU ...
Hei orang-orang yang disana ...
Kau orang-orang berani atau bodoh ?
Kau hebat, bahkan terlalu hebat
Atau lebih pantas ku sebut terlalu nekat
Kau nekat sekali untuk mencicipi racun-racun itu
Racun yang akan membuatmu mati secara perlahan
Diam-diam, dan pasti.........
Minggu, 14 Maret 2010
ADA APA DENGAN KITA?
Saudaraku, saat mobil mewah dan mulus yang kita miliki tergores, goresannya bagai menyayat hati kita. Saat kita kehilangan handphone di tengah jalan, separuh tubuh ini seperti hilang bersama barang kebanggaan kita tersebut. Saat orang mengambil secara paksa uang kita, seolah terampas semua harapan.
Tetapi saudaraku, tak sedikitpun keresahan dalam hati saat kita melakukan perbuatan yang melanggar perintah Allah, kita masih merasa tenang meski terlalu sering melalaikan sholat, kita masih berdiri tegak dan sombong meski tak sedikitpun infak dan shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski disekeliling kita anak-anak yatim menangis menahan lapar. Saudaraku, ada apa dengan kita?
Saudaraku, kata-kata kotor dan dampratan seketika keluar tatkala sebuah mobil yang melaju kencang menciprati pakaian bersih kita. Enggan dan malu kita menggunakan pakaian yang terkena noda tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong dan menggantinya dengan yang baru.
Tetapi saudaraku, kita tak pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori tubuh ini, kita tak pernah merasa malu berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini hingga saatnya hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya. Saudaraku, ada apa dengan kita?
Saudaraku, kita merasa tidak dihormati saat teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit jika orang lain mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa saat orang lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusahan, kepala pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang terpandang, kita sangat khawatir kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya saat orang-orang meninggalkan kita.
Tetapi juga saudaraku, tidak jarang kita abaikan nasihat orang, begitu sering kita tak mempedulikan panggilan adzan, tak bergetar hati ini saat lantunan ayat-ayat Allah terdengar ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jika Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya, kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di Padang Masyhar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan orang-orang sholeh dan beriman.
Saudaraku, tanyakan dalam hati kita masing-masing, ada apa dengan kita? Wallahu a'lam bishshowaab. (Bayu Gautama)
THE POWER OF…..
The power of “kepepet”. Adrenalin meningkat. Disiplin ketat. Kecepatan membaca melesat. Dan kemampuan sel-sel otak untuk menghafal pun menjadi tak tercatat.
The power of “terpaksa”. Yang sulit menjadi mudah. Yang tak mungkin menjadi mungkin. Yang ribet terpaksa dilakukan. Tak mengerti akhirnya harus di pahami. Yang tak minat menjadi minat. Yang tak berniat menjadi niat.
The power of “tugas”. Ikhlas nggak ikhlas harus dikerjakan. Jatah tidur pun di babat. Kalau nggak ngerti, jurus jitu akan dikeluarkan, copy paste tugas teman. Asal tugas dapat dikumpulkan, siang malam berfikir keras. Sholat pun lupa dan kebablasan. Akhirnya tugas selesai dengan pas-pasan. Pas waktunya, pas jumlahnya, pas…..ti…. amburadul bentuk orangnya.
The power of “kata-kata”. Saat kebuntuan mencapai area Broca. Tak sepatah katapun terlintas di telingga. Namun saat area Broca mulai bekerja. Setiap yang mendengar, kan tersugesti karnanya. Saat lidah telah memerankan fungsinya sebagai pisau pemenggal kepala. Semua orang kan bertekuk lutut padanya. Karena kata-kata lebih berbahaya dari pisau bermata dua.
Minggu, 28 Februari 2010
DEWASA Vs PENAMBAHAN USIA
Dalam kehidupan kita sehari-hari selalu saja dewasa diidentikan dengan penambahan usia. Padahal tidak selalu seperti itu, bahkan banyak orang yang selalu bertambah usianya tapi tidak pernah dewasa. Masalah penambahan usia atau tua itu adalah masalah usia biologis dan itu pasti akan terjadi. Sedangkan masalah kedewasaan adalah masalah pematangan kepribadian dan pola pikir kita. Karena itu tidak semua orang dewasa itu berusia tua dan tidak semua orang yang berusia muda itu belum dewasa.
Memang agak abstrak rasanya kalau kita berbicara tentang kedewasaan. Indikator penilaiannya pun menjadi cukup rumit. Berbeda dengan usia biologi yang memiliki parameter yang sudah baku dan diakui di seluruh dunia (biasanya dalam hitungan tahun). Dalam ilmu kedokteran dikenal 2 cara pembelajaran, yaitu pembelajaran anak-anak dan pembelajaran orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa adalah pembelajaran yang lebih aktif dan long life learning (belajar sepanjang hidup). Orang dewasa tidak akan puas dengan ilmu yang didapatnya, sehingga ia akan mencari sumber-sumber lain atau second opinion untuk menunjang teori yang baru di dapatnya. Kelihatannya mudah untuk melakukannya, tapi sangat sulit sekali untuk di terapkan di kehidupan nyata, apalagi dikalangan mahasiswa Indonesia sekarang.
Slogan long life learning sebenarnya sudah beberapa tahun yang lalu digembar gemborkan, tapi kenyataannya hanya segelintir mahasiswa yang “mulai” ngeh dengan slogan tersebut dan tidak lagi menganggapnya hanya sekedar slogan. Kelihatannya para pemuda Indonesia masih seperti paku dan palu, siap bertindak kalau diperintah atau disuruh dan kurang inisiatif. Lebih suka diberi ikan dari pada diberi pancingan. Ya, memang susah untuk merubah kebiasaan, apalagi merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik, tapi herannya mudah sekali untuk merubah kebiasaan baik menjadi kebiasaan buruk.
Misalnya masalah sholat malam atau tilawah, mudah sekali untuk meng-“absen”-kan 1 malam tahajud kita, kemudian berlanjut ke malam berikutnya dan berikutnya sehingga akhirnya sholat tahajud itu akan terabaikan sama sekali. Emang awalnya kita anggap sepele karena hanya meng-“absen”-kan 1 malam, ya hanya 1 malam. Tapi besoknya, 1 malam lagi dan 1 malam lagi. Mungkin awalnya, kita juga memiliki alasan atau tepatnya pembenaran untuk hal itu, kecapean atau mau ujian sehingga belajar sampai larut malam dan ketiduran. Kadang, hal-hal sepele yang kita sepelekan itulah yang sebenarnya akan menjadi hal besar yang membuat kita terjerumus jauh dari Allah.
Tapi, ketika kita ingin meng-“up grade” tilawah kita jadi 1 ½ juz perhari, ada saja alasan-alasan dan pembenaran-pembenaran yang terlontar dari dalam hati kita hingga sulit sekali untuk melakukannya dan akhirnya memang tidak kita lakukan, kalau lah memang kita lakukan, hal itu menjadi tidak maksimal.
Jadi janganlah takut menjadi tua, karena menjadi tua itu adalah suatu kepastian. Tapi isilah setiap hari-hari kita, disetiap hela napas kita dengan hal yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Apapun yang kita lakukan, kita tidak bisa untuk menunda waktu dan menunda penuaan kita. Maka dewasalah. Dewasalah dalam segala hal. Dewasalah dalam menyingkapi hidup, karena tidak semua orang akan menjadi dewasa tapi semua orang akan menjadi tua. Insyallah kelak kita akan menjadi tua dan kita adalah calon-calon orang tua yang berkualitas. Amin ya Rabb………
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Dapat artikel yang unik nih. Dari judulnya aja udah bikin penasaran utk dibaca. Tanpa pikir panjang, artikel ini langsung aku baca, he.....h...
-
Tak terasa, sudah hampir 4 tahun aku di sini. Masih lekat diingatanku, saat-saat waktu ini akan datang menyapa. Coba kita lihat kembali pe...
-
Benar-benar, aku mencintai mereka. Cinta karna Mu ya Allah. Bagaimana cara aku mengungkapkan rasa cinta ku pada Mu, karena kau telah memberi...






