Skip to main content

BERKENALAN DENGAN BURUNG KUAU BESAR

Burung Kuau Besar. Mungkin kamu sudah pernah mendengar nama itu, atau bisa jadi kamu sudah sering mendengarnya, tapi ada juga sebagian dari kamu yang baru pertama kali mendengar nama tersebut. Walaupun demikian, tahukah kamu sebenarnya apa dan bagaimana burung Kuau Besar itu? Dari mana asalnya? Bagaimana karakteristiknya? Atau dimana habitatnya? Baiklah, pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan beberapa informasi yang dapat membuatmu lebih familiar lagi dengan “Burung Kuau Besar”.

Pernahkah kamu berkenalan dengan seseorang? Saya yakin jawabannya pasti pernah. Nah, sekarang saya akan membawamu ke dalam dunia imajinasi saya. Dan bersiap-siaplah menjadi tokoh utamanya, karena sebentar lagi saya akan mengajakmu berkenalan dengan “Burung Kuau Besar”. Seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Karena itu, bagaimana bisa kita dapat mencintai dan menjaga kelestarian burung Kuau tersebut, jika kita sendiri tidak pernah mengenal dan memperhatikannya.

Tiba-tiba saja di depanmu sekarang telah berdiri beberapa ekor burung Kuau Besar yang merupakan fauna maskot Provinsi Sumatera Barat. Ia sedang mengepak-ngepakkan sayapnya untuk melihatkan keindahan bulunya kepadamu. Tahukah kamu, burung Kuau Besar merupakan bagian dari bangsa Galliformes dan berasal dari suku Phasianidae. Dalam bahasa latin, burung Kuau Besar disebut dengan Argusianus argus L.

Setelah beberapa lama mengamati burung tersebut, ternyata kamu sudah dapat mengetahui beberapa informasi dan berkenalan dengan burung Kuau Besar. Kamu perhatikan, ternyata kepala burung Kuau tidak memiliki bulu, itu merupakan salah satu keunikan dan daya tarik dari burung Kuau Besar tersebut. Kulit bagian kepala dan lehernya berwarna kebiruan. Jambul yang dimiliki burung Kuau, menambah pesona yang ada pada dirinya. Jambul tersebut terdiri dari bulu-bulu yang sangat lembut.

Namun tiba-tiba burung itu mematuk suatu benda, sehingga pandanganmu seketika mengarah kepada paruh burung tersebut. Paruhnya sangat kuat dan berwarna kuning pucat. Iris matanya berwarna merah. Bulu tubuh burung Kuau berwarna coklat dengan corak bulat-bulat kecil yang berwarna kuning dan hitam, namun corak tersebut hanya terdapat di bagian punggung, sayap dan ekornya saja. Sedangkan, bulu bagian bawah berwarna coklat sawo. Bulu-bulu penutup pada burung Kuau berukuran panjang, terutama pada burung Kuau jantan.

Burung Kuau kembali mengepakkan sayapnya, mungkin dia ingin memberikan suatu informasi kepadamu tentang sayapnya. Setelah beberapa lama berpikir dan mengamati sayap tersebut, ternyata kamu baru sadar bahwa sayap burung Kuau berbentuk bulat dengan bulu-bulu yang panjang dan sangat menarik dilihat. Burung Kuau Besar ini tidak dapat terbang jauh. Ia mengandalkan gaya lepas landasnya untuk mencapai kekuatan maju yang diperlukan sebagai awal penerbangan. Gaya lepas landas burung Kuau sangat unik, yaitu burung Kuau terbang hampir vertikal dengan kecepatan tingginya. Sehingga dapat mengimbangi cara terbangnya. Bulu ekornya berjumlah 12 helai. Uniknya, pada Kuau jantan sepasang bulu ekor yang tumbuh di tengah berukuran sangat panjang. Burung Kuau juga memiliki 2 kaki, tidak beda dengan burung-burung lainnya. Sepasang kakinya itu berwarna merah dan berukuran cukup panjang serta kuat. Tapi, ia tidak memiliki taji.

Secara umum, sekarang kamu sudah mengenal karakteristik fisik dari burung Kuau Besar. Tapi masih banyak yang harus kamu ketahui tentang burung ini. Kamu tahu? Ternyata, berat burung Kuau jantan dapat mencapai 11,5 kg. Jika dibanding dengan berat burung yang lain, berat burung Kuau dapat digolongkan cukup besar. Burung Kuau berhabitat di hutan primer serta dataran rendah hingga 1000 meter di atas permukaan laut. Burung Kuau banyak tersebar di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Barat. Namun sebagian kecil terdapat juga di Pulau Kalimantan.

Burung Kuau termasuk kepada hewan yang ovivar, yaitu hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur. Ia hanya dapat menghasilkan 2-3 butir telur yang menetas setelah 25 hari. Saat berlangsung perkawinan, Kuau jantan akan menari mondar-mandir dengan ekor menjurai menyapu tanah sambil mematuk-matuk ranting atau biji-bijian. Jika Kuau betina tertarik, maka Kuau jantan akan menegakkan bulu tubuh, sayap dan ekornya sehingga membentuk suatu bayangan yang bulat. Kemudian Kuau jantan akan menghadap secara vertikal ke arah betina, lalu perkawinan terjadi.

Burung Kuau agak berbeda dengan burung-burung lain dalam hal membuat sarang atau tempat tinggal. Karena burung Kuau membuat sarang di atas tanah, bukan di atas pohon. Ia membuatnya dari rumput-rumputan atau daun-daunan. Anak burung Kuau yang telah mencapai umur ± 1 tahun dapat dilepas untuk mencari makan sendiri. Makanannya tidak begitu sulit didapat,contohnya buah dan biji-bijian yang jatuh, semut, dan siput. Burung Kuau memiliki kebiasaan bertengger di dahan-dahan pohon yang tidak begitu tinggi mungkin itu adalah salah satu caranya beradapatasi dengan dunia luar.

Tiba-tiba lamunanmu buyar dan di sekelilingmu tidak terdapat lagi seekor pun burung Kuau Besar. Kamu berusaha mencari-carinya, namun yang kamu temui malah bangunan-bangunan pencakar langit. Terbersik sebuah anggapan di pikiranmu, dan saya sudah bisa membacanya. Anggapanmu benar, memang burung Kuau sekarang sudah mencapai populasi yang hampir punah atau langka. Oleh sebab itu, karena kamu sudah mengenal dan mencintai burung Kuau tersebut, mulai dari “sekarang” dan mulai dari dirimu “sendiri”, cobalah kamu berusaha untuk menjaga kelestarian Kuau Besar, salah satunya dengan menjaga keasrian habitatnya.

Pemerintah tidak hanya berpangku tangan, ia telah berusaha untuk menjaga kelestarian maskot Provinsi Sumatera Barat ini dengan upaya konversi secara ex-situ, yaitu mengembangkan burung Kuau Besar di luar habitat aslinya, contohnya di kebun binatang. Tidak hanya berhenti sampai disitu, pemerintah juga mengeluarkan keputusan mengenai perlindungan terhadap burung Kuau ini, yaitu SK Mentan No.421/Kpts/Um/8/1970,UU No.5 Tahun 1990.

Sekarang kamu sedang tertidur di kamarmu sendiri. Mungkin kamu letih setelah melakukan perjalanan panjang sekaligus menyenangkan bersama saya dan burung "Kuau Besar”. Selamat bermimpi indah tentang burung Kuau Besar. Mudah-mudahan di dalam mimpimu kamu dapat menemukan cara bagaimana kelestarian hidup burung Kuau dapat terjaga dan ia dapat hidup harmonis bersama manusia.

Begitulah sedikit informasi tentang Fauna Maskot Provinsi Sumatera Barat yang saya kemas dalam bentuk sederhana. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan kita semua, khususnya bagi saya sendiri. Karena itu “KENALI, CINTAI, DAN LESTARIKANLAH FLORA DAN FAUNA, DEMI KELANGUNGAN HIDUP KITA”.

Comments

  1. jd pengin miara nih burung....biar ga punah....tp pasti dilarang dgn al
    asan ini itu....kadang ada warga yg berniat baik ingin menangkarkan biar jumlahnya bertambah alias ga punah....tp dipersulit

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

VITILIGO

Kelainan pigmen kulit merupakan suatu masalah apabila mengenai seseorang. Masalah yang pokok bukan dari sisi   bahaya atau tidak. Tetapi masalah dalam kejiwaan seseorang. Sebab, kulit yang semestinya berwarna sama pada seluruh tubuh, tetapi ada yang berbeda, atau dalam istilah Jawa dikenal sebagai belang. Seseorang menjadi minder, malu dan kurang percaya diri, apalagi bila   kulit yang terkena pada daerah yang tampak (misalnya wajah). Kelainan pigmen bisa berupa hipermelanosis di mana sebagian kulit berwarna lebih coklat/lebih gelap dibanding lainnya, atau hipomelanosis di mana sebagian kulit berwarna lebih muda dibanding sekitarnya (bercak putih).

Gait

Lagi iseng-iseng buka Republika.co.id, eh nemu sebuah artikel tentang "Adab Berjalan". Kebetulan pula sekarang lagi Blok Muskuloskeletal (Otot dan Rangka) yang merupakan alat gerak aktif dan pasif pada manusia.


Ngomong-ngomong masalah alat gerak, maka kita manusia memiliki 2 alat gerak (ekstremitas), yaitu: atas (superior) dan bawah (inferior). Trus, fungsi utama alat gerak kita, khususnya alat gerak bawah (tungkai-red) adalah untuk berjalan, agar kita bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Oke, sebelum saya mengopi paste artikel tentang "Adab Berjalan Kaki Menurut Ajaran Islam", maka saya mau ngasih tau sedikit tentang cara berjalan yang sedang saya pelajari.

Sesuai dengan judul postingan di atas, kita akan berbicara tentang Gait (cara jalan) di sini, baik itu jalan normal atau patologis (ngak normal). Dalam berjalan, kita memiliki fase jalan normal, yaitu: 1. Stand phase (fase menapak) 2. Swing  phase (fase mengayun)
Dan selama fase ini yang kita alami ad…

FRAKTUR TERBUKA FEMUR

PENDAHULUAN Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi Dekade Tulang dan Persendian. 1 Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas baik dari segi jumlah pemakai jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan dan bertambahnya jaringan jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas kemungkinan terjadinya fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara trauma – trauma lain yang dapat mengakibatkan fraktur adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, dan cedera olah raga. Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba – tiba dan berlebihan, yang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring, pemuntiran, atau penarikan. Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan, dan arahnya. Kita harus dapat membayangkan rekonstruksi terjadinya kecelakaan agar dapat mend…